Underpass Pasteur Bandung Hadapi Banjir & Pembebasan Lahan
Gambar atau konten salah?
Di kawasan Pasteur, kota Bandung, telah muncul gagasan pembangunan underpass sebagai upaya mengurai kemacetan kronis di pintu keluar tol. Rencana ini masih berada di tahap awal, memerlukan kajian teknis menyeluruh dan koordinasi lintas instansi.
Menurut Agung Wahyudi, Kepala Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (DBMPR) Jawa Barat, pihaknya sudah memulai komunikasi dengan pemerintah pusat. Ia berkata, “Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Jawa Barat telah melakukan koordinasi awal dengan Kementerian PU, dimana Persimpangan Pasteur merupakan bagian dari tol BIUTR dengan arah lalu lintas Dr. Djunjunan - Gerbang tol Pasteur.”
Namun, pembangunan underpass tidak dapat langsung dilaksanakan. Masalah banjir menjadi kendala utama. Agung menjelaskan, “Sebagai tahap awal diperlukan penanganan permasalahan banjir di wilayah Pasteur. Pembangunan underpass dapat menjadi salah satu alternatif solusi untuk mengatasi kemacetan pergerakan arus lalu lintas di Simpang Pasteur.”
Ia menegaskan bahwa proyek ini tidak bisa berjalan sendiri. “Ia menegaskan bahwa proyek ini tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan sinkronisasi rencana antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dan Pemerintah Kota Bandung, mengingat kawasan Pasteur terintegrasi dengan rencana Tol BIUTR.”
Agung menambahkan, “Diperlukan koordinasi lebih lanjut antara Pemprov Jabar, Kementerian PU dan Pemkot Bandung agar dapat menjadi satu kesatuan dengan rencana Tol BIUTR.”
Selain risiko banjir, pembebasan lahan juga menjadi tantangan besar. Ia mengungkapkan, “Potensi hambatan yang mungkin terjadi antara lain potensi terjadinya banjir dan masalah pembebasan lahan.”
Sejauh ini, angka anggaran belum ditetapkan. Agung menyatakan, “Perkiraan Biaya Underpass Pasteur masih dalam proses kajian awal. Dokumen perencanaan teknis seperti FS dan DED diperlukan untuk mengetahui kebutuhan biaya secara detail.”
Dengan semua kendala tersebut, proyek underpass Pasteur masih memerlukan banyak persiapan. Koordinasi antara pemerintah provinsi, kementerian, dan kota, serta penanganan masalah banjir dan lahan, menjadi kunci utama sebelum rencana dapat diproses lebih lanjut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
