Upacara Peringatan Perang Dunia II di Ereveld Leuwigajah
Gambar atau konten salah?
Di Makam Kehormatan Belanda atau Ereveld Leuwigajah, di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, nisan‑nisan putih berbentuk salib dan Bintang David tersusun rapi di atas rumput hijau. Tempat ini menjadi saksi bisu bagi korban Perang Dunia II yang masih terpatri di tanah Indonesia.
Di tengah area, tiang tinggi menampung bendera Belanda yang berkibar. Bendera yang berwarna merah, putih, dan biru menandai kehadiran negara yang berperan dalam upacara Dodenherdenking atau The Commemoration of the Fallen.
Hadir di acara tersebut hanya beberapa perwakilan keluarga, Atase Pertahanan Belanda di Indonesia, dan perwakilan pemerintah. Jumlahnya tidak banyak, namun setiap kehadiran memiliki makna mendalam bagi yang hadir.
Proses upacara dimulai dengan keluarga yang leluhurnya gugur menaruh karangan bunga di depan tiang bendera. Setelah itu, prosesi berakhir dengan mengheningkan cipta dan tabur bunga di nisan keluarga. Suasana menjadi hening, menandai penghormatan yang mendalam.
"Hari ini, tanggal 4 Mei, kami mengadakan upacara peringatan yaitu The Commemoration of the Fallen. Ini merupakan upacara peringatan resmi nasional dari Belanda, yang berkaitan dengan berakhirnya Perang Dunia II pada tahun 1945," kata Eveline de Vink, Direktur Oorlogsgravenstichting (OGS) atau Yayasan Makam Kehormatan Belanda Indonesia.
Perwakilan OGS menegaskan bahwa upacara ini diadakan setiap tahun sebagai bentuk penghormatan. Ini bukan sekadar seremonial, melainkan momen refleksi atas kehilangan orang tersayang akibat peperangan. Setiap tahun, keluarga yang terdampak diberi kesempatan untuk menyalakan lilin dan menaruh bunga sebagai tanda rasa hormat.
"Kami memandang sangat penting untuk terus mengadakan upacara peringatan seperti ini. Dahulu, saya sempat berpikir bahwa tidak akan pernah ada Perang Dunia III. Namun melihat kondisi dunia saat ini, kita tidak pernah tahu bahkan mungkin saja sebagian orang merasa bahwa situasi tersebut sudah mulai terjadi," kata Eveline de Vink.
"Bahkan baru-baru ini juga ada korban dari Indonesia di Lebanon, dan kami turut berduka cita. Peristiwa seperti ini menunjukkan bahwa konflik masih terus terjadi hingga sekarang. Kita tentu berharap hal itu tidak akan sampai terjadi. Yang dapat kita lakukan adalah terus berupaya menjaga perdamaian dan kebebasan bagi semua," tambahnya.
OGS berperan sebagai tuan rumah upacara peringatan resmi Belanda di Tanah Air, termasuk peringatan pada 15 Agustus mendatang. Peringatan tersebut dianggap lebih besar karena secara resmi Perang Dunia Kedua di Asia berakhir pada tanggal tersebut.
"Peringatan 15 Agustus merupakan yang terbesar, karena secara resmi Perang Dunia Kedua di Asia berakhir pada tanggal tersebut. Oleh karena itu, peringatan 4 Mei biasanya lebih kecil dibandingkan dengan 15 Agustus nanti," kata Eveline de Vink.
Untuk peringatan 15 Agustus tahun ini, rencananya akan melihat kembali kesiapan lokasi. Seharusnya di Ancol, namun manajer Ancol baru saja meninggal dunia, sehingga perlu ada penyesuaian lebih lanjut," ujarnya.
Acara ini menegaskan pentingnya menjaga perdamaian dan kebebasan di dunia. Meskipun jumlah peserta kecil, nilai simbolik peringatan tetap kuat, mengingat sejarah panjang konflik yang pernah menimpa wilayah ini.
Di akhir upacara, para hadirin meninggalkan Ereveld Leuwigajah dengan perasaan campur aduk, mengenang masa lalu dan berharap masa depan lebih damai. Peringatan ini menjadi pengingat bahwa setiap korban perang, baik sipil maupun militer, tetap dikenang dan dihormati.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
