Warga Bandung Tetap Salat di Masjid Terdampak Banjir
Gambar atau konten salah?
Di Kabupaten Bandung, langit mendung menandai waktu adzan Jumat. Genangan air banjir menghambat langkah warga menuju Masjid Jami Baitul Ghofur di Kampung Cijagra, Kecamatan Bojongsoang. Untuk menghindari air, pakaian dari celana hingga sarung harus dilipat, sedangkan sejadah disimpan di kepala agar tidak terkena percikan.
Meski dikepung genangan, semangat ibadah tetap terjaga. Warga harus menerjang air setinggi 50 sentimeter hingga 70 sentimeter sebelum memasuki masjid. Situasi ini terjadi pada 10 April 2026, ketika area jalan dan halaman masjid penuh genangan.
Menurut Ahmad Rifai, wilayah ini merupakan area langganan banjir. Ia sering menggunakan perahu untuk aktivitas sehari‑hari. “Iya di sini mah memang langganan banjir. Banjir ini aja sudah menggenang dari tiga hari yang lalu. Pagi hingga siang surut, nanti sore kalau hujan ya naik lagi,” ujarnya.
Ahmad mengaku kerap beribadah di masjid tersebut ketika debit air tidak masuk ke dalam bangunan. Ia menambahkan, “Kalau air banjir sampai masuk ke masjid, ya salat juga susah. Jadi kadang gak digunakan masjidnya, kalau banjirnya parah mah. Cuma sekarang kan banjirnya sampai halaman aja, jadi area dalam masjid masih bisa digunakan,” katanya.
Ahmad menjelaskan bahwa banjir tersebut merupakan luapan dari Sungai Citarum akibat hujan dengan intensitas tinggi beberapa hari yang lalu. “Iya banjir ini mah luapan sungai Citarum,” jelasnya.
Warga lain, Imas Suningsih berusia 48 tahun, menilai genangan dapat surut jika hujan tidak kembali. “Ini juga kelihatan sudah mendung gini, kayanya nanti sore hujan lagi. Kalau hujan lagi, ya surutnya kayanya lama,” kata Imas.
Imas menjelaskan bahwa kendaraan roda dua tidak bisa melintas, sementara mobil masih bisa lewat dengan kecepatan lambat. “Motor mah udah sulit ngelewat, kalau mobil mah bisa. Tapi harus pelan, soalnya kalau mobil lewat suka jadi ombak dadakan,” pungkasnya.
Keberadaan banjir di area masjid menambah tantangan bagi warga. Namun, kondisi interior masjid masih cukup kering sehingga ibadah tetap dapat dilaksanakan. Air yang menembus hanya sampai halaman, memungkinkan jamaah untuk melaksanakan salat Jumat meski cuaca tidak bersahabat.
Situasi ini menyoroti betapa pentingnya kesiapsiagaan komunitas di daerah rawan banjir. Banjir yang diakibatkan oleh hujan deras dan luapan sungai menuntut adaptasi, seperti penggunaan perahu, perlindungan barang pribadi, dan penyesuaian jadwal ibadah. Meskipun tantangan tetap ada, semangat warga Bandung menunjukkan bahwa ibadah dapat tetap berlangsung, bahkan di tengah kondisi cuaca yang berat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
