Warga Segel Bekas Halte Sidoarjo, Diduga Sarang LGBT
Gambar atau konten salah?
Sebuah bangunan bekas halte kereta api di kawasan Sawotratap, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, menjadi perbincangan hangat di media sosial. Ruangan kosong tersebut diduga sering digunakan untuk aktivitas asusila, termasuk dugaan hubungan sesama jenis.
Bangunan berukuran sekitar 5 meter x 3 meter itu terletak di sisi kiri Jalan Raya Gedangan, dari arah Surabaya menuju Sidoarjo. Kondisinya kumuh dan tidak terawat. Di sekitar lokasi, terlihat beberapa botol bekas yang diduga bekas minuman keras, serta kondom bekas yang sudah rusak. Pintu ruangan kini telah dipasangi police line dan ditempeli secarik kertas bertuliskan, "Titik terendah manusia adalah suka sesama jenis."
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lokasi, penyegelan dilakukan pada Minggu, 12 Juli 2026, dini hari. Warga menduga ruangan itu kerap dipakai untuk perbuatan asusila.
Pepi (35), seorang warga Sidoarjo, mengatakan penyegelan dilakukan bersama komunitasnya setelah menerima sejumlah laporan dari masyarakat. "Kami bersama teman-teman komunitas melakukan penutupan dengan memasang police line. Selama ini kami sering menerima laporan dari warga yang mengaku memergoki dua orang sesama jenis berada di dalam ruangan itu. Selain itu juga ada laporan tempat itu diduga digunakan untuk aktivitas maksiat lain," kata Pepi pada Senin, 13 Juli 2026.
Menurut Pepi, informasi yang dia terima menyebutkan orang-orang yang datang ke lokasi diduga membuat janji melalui grup WhatsApp maupun media sosial sebelum bertemu di tempat itu. Namun, hal itu masih sebatas informasi dari masyarakat dan belum bisa dipastikan kebenarannya.
Hal senada disampaikan Efendi (40), warga yang kerap berada di warung kopi di seberang Jalan Frontage. Ia mengaku pernah melihat dua pria memasuki ruangan bekas halte tersebut saat hujan deras. "Waktu itu hujan deras, saya kira mereka hanya berteduh. Tapi karena lama tidak keluar, saya bersama beberapa warga mendekati lokasi. Ternyata mereka sedang melepas celana," ujar Efendi.
Efendi mengaku pernah beberapa kali melihat orang keluar masuk ruangan itu, namun ia tidak mengetahui secara pasti identitas maupun asal mereka. Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun instansi terkait mengenai dugaan aktivitas asusila di lokasi itu maupun pemasangan police line di bangunan bekas halte tersebut.
Bangunan bekas halte yang terbengkalai ini menjadi sorotan setelah warga setempat dan komunitas tertentu mengambil tindakan sendiri dengan menyegelnya. Dugaan aktivitas asusila di tempat itu masih sebatas laporan dan pengakuan warga, belum ada konfirmasi resmi dari aparat. Tindakan penyegelan oleh warga menunjukkan kekhawatiran masyarakat terhadap penggunaan bangunan kosong yang tidak terawat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Ratusan Monyet Ekor Panjang Turun ke Pasar, Cari Makan
Guru SD di Sidoarjo Naik Perahu Demi Mengajar saat Banjir Rob
Messi Geser Mbappe di Puncak Top Skor Piala Dunia
Penyebab Karhutla: dari Hal Sepele hingga Bencana
KAI Bantah Penguntit Penumpang Wanita di Supas adalah Pegawai
Banjir Rob Kalianak Semakin Parah, Warga Minta Dam Dibangun
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
