Warung Kosong 3: 400 Porsi Gratis Siap Dibagikan di Cirebon
Gambar atau konten salah?
Di Jalan Sudarsono, Kota Cirebon, terdapat sebuah warung makan yang selalu dipenuhi orang. Warung ini berbeda dari yang lain karena semua orang dapat makan gratis. Nama tempat ini, Kosong 3, menjadi sorotan setiap hari ketika ratusan warga menunggu giliran.
Program ini dimulai pada Februari 2024 oleh Abdurrahman bersama dua rekannya. Pada awalnya, mereka hanya menyediakan 10 hingga 15 porsi nasi telur setiap hari. “Awal kita hanya 10 porsi sampai 15 porsi rutin sehari per hari,” kata Abdurrahman ketika ditemui di lokasi pada Senin, 18 Mei 2026.
Sejak itu, kegiatan ini berkembang. Sekarang, setiap hari mereka membagikan antara 350 hingga 400 porsi makanan. Menu tidak hanya nasi telur, melainkan juga berbagai lauk yang berganti setiap hari. “Alhamdulillah sekarang bisa ganti-ganti menunya. Bahkan sampai tongseng daging sapi,” tambahnya.
Lokasi warung berada di bawah rindangnya pepohonan. Antrean warga mulai memanjang menjelang siang. Meski matahari terik, suasana terasa teduh berkat deretan pohon besar yang menaungi area pembagian. Beberapa warga berdiri sambil bercengkerama, sementara yang lain duduk santai di pinggir jalan menunggu giliran. Di antara mereka, ada pengemudi ojek online, pemulung, pekerja harian, dan berbagai profesi lainnya.
Setiap hari, makanan mulai dibagikan sekitar pukul 12.00 WIB. Di balik antrean, tersembunyi dapur sederhana yang menjadi tempat memasak ratusan porsi. Dari sana, makanan dengan beragam lauk pauk dimasak dan disajikan kepada warga yang datang.
Abdurrahman menjelaskan bahwa program ini bermula dari pengalaman sederhana saat berbagi makanan kepada warga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat itu, menu yang dibagikan hanya nasi, telur, dan sambal. “Dulu kan cuma nasi telur aja menunya. Dikasih nasi telur sama sambal aja sampai nangis ternyata belum makan,” ujarnya.
Seiring waktu, jumlah penerima terus bertambah. Bantuan mulai datang dari warga yang tergerak. Mereka menyumbangkan titipan lauk atau bahan makanan. “Awalnya memang pribadi, terus ada orang yang terketuk, 'jangan telur terus dong kasihan. Saya nitip ya'. Misalkan nitip untuk hari ini lauknya begini, ada yang request donaturnya. Donatur yang menentukan sendiri,” jelas Abdurrahman.
Nama Kosong 3 memiliki makna tersendiri. Abdurrahman mengatakan, nama itu lahir dari semangat melayani. “Kita kan mau melayani, mau ngasih makan orang berarti kita melayani. Jadi kita betul-betul melayani, makanya kita harus dikosongkan dulu diri kita ini dari sombong, serakah, angkuh, itu kita hilangkan dulu,” kata dia.
Pengelolaan kegiatan sehari-hari dilakukan bersama istrinya dan dibantu para relawan. Untuk kebutuhan memasak, mereka bahkan membangun dapur sederhana di belakang lokasi pembagian makanan. Kegiatan ini menjadi penolong bagi warga yang mengalami rasa lapar di siang hari.
Jamal, salah seorang warga yang ikut mengantre, mengaku baru pertama kali datang ke lokasi tersebut. Ia mengetahui tempat itu saat melintas di kawasan Jalan Sudarsono. “Sangat membantu buat kalangan orang-orang yang sederhana,” ujarnya.
Program ini terus menarik perhatian warga. Antrean belum sepenuhnya terisi saat pembagian dimulai, namun jumlah warga biasanya terus bertambah menjelang siang. “Ini belum datang semua, nanti sampai sana biasanya,” kata Abdurrahman sambil menunjuk antrean yang memanjang.
Sejak awal, seluruh kebutuhan ditanggung pribadi oleh para penggagas. Namun, seiring berjalannya waktu, bantuan mulai datang. Warga yang tergerak menyumbangkan bahan makanan, dan program ini menjadi lebih beragam. “Dulu kita masih nolak dulu kalau ada yang mau donasi. Kalau mau donasi bahannya aja, kita tinggal masak,” tambahnya.
Program makan gratis ini menjadi contoh sederhana bagaimana solidaritas dapat diwujudkan di masyarakat. Setiap hari, warga datang tanpa batasan, termasuk pengemudi ojek online, pemulung, dan pekerja harian. Semua orang dapat menikmati makanan tanpa biaya.
Di balik keberhasilan program ini, ada tekad kuat untuk melayani tanpa pamrih. Abdurrahman dan rekannya terus mengembangkan menu, menambah jumlah porsi, dan melibatkan lebih banyak relawan. Dengan dukungan warga, warung ini tetap menjadi tempat yang ramai setiap hari.
Program ini menunjukkan bahwa dengan niat baik dan kerja keras, sebuah inisiatif sederhana dapat memberikan dampak positif bagi banyak orang. Setiap orang yang datang merasa dihargai, dan setiap porsi makanan menjadi bukti nyata bahwa solidaritas dapat mengatasi rasa lapar di tengah masyarakat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Argentina vs Inggris: Bukan Cuma di Lapangan, Juga di Pastry
PM Hungaria Terima 90 Mangga dari Pakistan, Simbol Diplomasi
Workshop Kotak Bunga Korea: Kado Personal Buatan Sendiri
Wisatawan RI Didenda Rp385 Ribu Bawa Bakso di KLIA
5 Tempat Ayam Bakar Enak di Jakarta, Mulai Rp23.000
