Wodeol, Sopir Bus Jadi Desainer Logo, Tewas di Desa Kaliabu

Dwi H. · 4 min baca · 2 bulan lalu · 78 dibaca
Bisik.id
Wodeol, Sopir Bus Jadi Desainer Logo, Tewas di Desa Kaliabu

Gambar atau konten salah?

57 tahun, Magelang— Muhammad Abdul Bar, yang dikenal dengan julukan Wodeol, menjadi sorotan publik ketika logo yang dirancangnya memenangkan kompetisi desain di perusahaan asing. Hasilnya tidak hanya mengisi tabungan, tapi juga membayar kuliah dua putri dan membangun rumah.

Wodeol ditemukan tewas di Dusun Demangan Timur, Desa Kaliabu, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang. Dari Sawitan, ibu kota kabupaten, sampai Desa Kaliabu hanya sekitar 20 km, memakan waktu sekitar 30 menit.

Pria ini dulu bekerja sebagai sopir bus malam rute Magelang‑Jakarta, bahkan pernah menempuh rute hingga Sumatera. Ia juga pernah menjadi pengemudi truk tangki di Kalimantan sebelum memutuskan berhenti pada tahun 2015.

“Awalnya cuman merasa tidak cukup saja hasil yang dapatkan untuk kehidupan keluarga dari mengemudi. Terus, saya sering mencari lowongan pekerjaan di koran‑koran. Dulu, iklan kecil ya,” kata Wodeol saat ditemui di rumahnya pada Senin, 20 April 2026.

Internet bagi Wodeol masih asing. Ia memulai akun Facebook pada tahun 2010, ketika Twitter dan TikTok belum ada. “Saat itu, satu‑satunya sopir bus yang mempunyai medsos baru awal‑awalnya FB. Baru saya, sekitar tahun 2010. FB, masih barang istimewa,” tambahnya sambil menyeruput kopi.

Wodeol mengunjungi warnet untuk mencari lowongan. Warnet di Kaliabu hanya satu, dan ia menggunakannya hampir setiap hari. “Ya di warnet hanya untuk mencari lowongan kerja, selain sopir bus. Akhirnya menemukan peluang kerja baru sebagai pengemudi truk tangki di Kalimantan. Di sana selama setahun,” jelasnya.

Di warnet, Wodeol bertemu dengan pemiliknya. Ia belajar menavigasi internet, menemukan peluang kerja, dan akhirnya belajar desain. “Singkat cerita seringnya ke warnet menemukan peluang kerja atau belajar desain. Persisnya saya lupa, sering ngobrol (penjaga warnet). Di situlah akhirnya menemukan bagaimana cara mendesain hingga contest design,” kata Wodeol.

Logo pertamanya yang dimenangkan berhadiah USD 300 datang dari perusahaan otomotif Australia pada awal 2010‑an. “Waktu itu dapat Rp 2,8 juta. Itu sudah luar biasa, kaya sak sugih‑sugihe sak Kaliabu,” ungkapnya. Ia bandingkan dengan satu kali PP Magelang‑Jakarta selama tiga hari, hanya Rp 250 ribu.

Ia menyimpan uang kemenangan di bawah meja, menaruh Rp 100 ribu per kali kemenangan. “Saya taruh di bawah meja (kaca komputer). Sampai satu meja penuh uang Rp 100 ribu. Mereka pada heran, saya bukan pamer. Mereka tertarik ingin (mendapatkan uang),” jelasnya.

Setelah memenangkan logo konsultasi keuangan, ia mendapatkan USD 200 (kurang dari Rp 2 juta). Ia terus mencari lomba, bahkan masih bekerja sebagai sopir. “Akhirnya, suatu saat menang lagi, logo soal konsultasi keuangan. Itu menang dapat 200 dolar, saat itu kurang dari Rp 2 juta,” tuturnya.

Keputusan berhenti menjadi sopir tidak mudah. Banyak tetangga menganggapnya gila. “Orang mulai bisik‑bisik nggak bener (dikira kerjanya). Karena sudah enak punya kerjaan, kok di rumah (dianggap menganggur). Curiga (kerja di ruang tamu), satu, dua, orang awalnya ngintip (kerjanya),” ia mengungkapkan.

Tetangga akhirnya mengetahui ia bekerja di depan komputer. Mereka datang melihat prosesnya. “Mereka datang ke sini, sering main. Duduk bareng, saya mengerjakan sesuatu. Yang inten bertanya, kemudian saya beritahu caranya,” kata Wodeol.

Keahlian Wodeol segera tersebar. Ia menjadi pusat “kampung desain.” Ia tidak dapat menghitung jumlah orang yang tetap belajar dari beliau. “Kalau sekarang (konsisten) masih, kalau dihitung (jumlahnya) nggak bisa menghitung karena tidak ada data base (jumlah orang yang bertahan),” katanya.

Wodeol menjalin hubungan dengan lebih dari 50 perusahaan asing. Ia tetap berkomunikasi, terkadang mengirim email ucapan selamat ulang tahun. “Ya kalau dihitung sih, saya nggak bisa secara persis detail berapa. Tapi, ya cukup lumayan. Ya 50 (perusahaan), sudah kembali order. Itu kebanyakan dari Amerika dan Australia,” jelasnya.

Kliennya beragam: otomotif, kosmetik, konsultasi bisnis, minuman, makanan, restoran, dan lain‑lain. “Satu kampung pernah 20 orang menang kontes, terus datang ke sini ramai‑ramai,” ungkapnya.

Di tahun 2012‑2013, Wodeol membangun rumah. Kegiatan desain di Desa Kaliabu mendapat perhatian kementerian. “Saat itu, Kementerian Pariwisata yang mengetahui kegiatan yang dilakukan warga Desa Kaliabu. Untuk itu, Wodeol pernah diundang untuk talk show yang dipandu Andy F Noya dalam Kick Andy,” tambahnya.

Hasil kontes sering digunakan untuk membangun rumah dan membayar kuliah putri. “Iya (bangun rumah) sama kuliah anak. Pertama, alumni Akper, terus yang kedua di UNS,” sampaikan Wodeol.

Ia mengatakan pendapatan rata‑rata per bulan melebihi UMR. “Karena kita untuk bekerja tidak bisa sebulan penuh. Kadang ada titik jenuh, bosan. Dari 30 hari, maksimal bisa kita manfaatkan cuman 10 hari, selebihnya buat (keluarga),” ia jelaskan.

Periode 2012‑2026, pendapatan tertinggi mencapai USD 2.000 per bulan. Saat itu, satu dolar setara Rp 15.000. Sekarang, pendapatan USD 500 per bulan masih dianggap baik. “Pernah 2.000 dolar (sebulan), saat itu per dolar sekitar Rp 15 ribu. Kalau sekarang sebulan sekitar 500 dolar sudah bagus (karena banyaknya pesaing),” tambahnya.

Wodeol juga meraih penghargaan Platinum Designer di kompetisi Global 99designs. Ia mengakui penghargaan tersebut penting bagi seseorang yang hanya lulusan SMA. “Banyak (di Indonesia mendapatkan platinum designer). Karena banyak (dapat) platinum bukan hal yang istimewa bagi mereka yang senior‑senior. Tapi, kepada saya seolah istimewa. Menjadi heboh ke saya karena tamatan SMA, latar belakang sopir bus,” kata Wodeol.

Wodeol menutup cerita dengan harapan. “(Mau sampai kapan bikin desain logo) Saya tidak tahu. Yang penting saat ini sudah menjadi lahan ikhtiar saya untuk mencari rezeki. Selama, insyaallah saya masih diberi rezeki sama Allah dan selama masih dihidupkan oleh Allah, saya kira masih dapat rezeki. Dan itulah lahan satu‑satunya saya punya,” pungkasnya.

Wodeol, seorang sopir bus yang berubah menjadi desainer logo, menunjukkan bahwa peluang dapat muncul di tempat tak terduga. Dari warnet sederhana hingga kompetisi global, ia memanfaatkan setiap kesempatan. Keberhasilannya tidak hanya memberi manfaat bagi keluarganya, tapi juga menginspirasi komunitas di Desa Kaliabu menjadi “kampung desain.”

WodeolDesainer LogoKampung DesainMagelangKompetisi GlobalWarnetSopir BusKemenangan

Komentar

Memuat komentar...