Zaini Shofari: Super League Harus Ada Penonton untuk Keamanan
Gambar atau konten salah?
Super League 2025/26 memasuki fase krusial, namun keputusan tentang pertandingan tanpa penonton dan pemindahan lokasi masih menjadi sorotan. Rangkaian laga yang akan menentukan juara dan posisi degradasi menuntut perhatian ekstra.
Di tengah situasi ini, Zaini Shofari, anggota DPRD Jawa Barat sekaligus Bobotoh, menegaskan bahwa atmosfer sepak bola tak dapat dipisahkan dari kehadiran suporter di stadion. Ia mengingatkan bahwa keputusan seperti laga tanpa penonton atau pindah lokasi harus dipertimbangkan secara matang.
"Jangan gampang vonis tim bertanding tanpa penonton atau pindah lokasi," tegas Zaini.
Menurutnya, aparat keamanan memiliki kapasitas mumpuni untuk mengawal jalannya pertandingan. Koordinasi lintas sektoral, termasuk kepolisian dan penyelenggara kompetisi, dapat menjaga kondusivitas tanpa mengorbankan kehadiran penonton di tribun. Ia menegaskan, "Saya yakin dan optimis pihak keamanan, dalam hal ini kepolisian, mampu padu dalam melakukan koordinasi. Sehingga sepak bola Indonesia tetap dipandang bagian dari olahraga yang benar-benar populis dan populer," ujarnya.
Zaini menyoroti beberapa insiden yang terjadi belakangan. Pemindahan laga PSIM melawan Persija dari Yogyakarta ke Bali, serta pertandingan Dewa United kontra Persib di Banten yang digelar tanpa penonton, menjadi contoh situasi yang disayangkan. Ia menilai bahwa hal tersebut terjadi ketika kompetisi berada pada titik paling menentukan.
"Betul, pihak keamanan dalam hal ini kepolisian memiliki penanganan terpadu dalam menjaga kondusifitas keamanan di lingkungan masyarakat termasuk juga PSSI. Tetapi dengan sisa waktu pertandingan yang enam laga lagi, tentu ini merupakan masa-masa krusial dalam kompetisi yang kompetitif," katanya.
Setiap pertandingan di fase akhir musim memiliki bobot layaknya partai final. Baik bagi tim yang berburu gelar juara maupun yang berjuang menghindari degradasi, atmosfer pertandingan harus tetap dijaga demi menghindari prasangka negatif di tengah publik.
"Laga setiap pertandingan bisa jadi seperti final. Final untuk merebut juara atau final terhindar degradasi. Agar atmosfer sepak bola berjalan dengan adanya, tetap terjaga, harus diminimalisir kecurigaan yang ada. Meskipun betul itu adalah bagian dari proses menuju keamanan agar semua masyarakat nyaman," jelasnya.
Ia mengingatkan pengalaman sukses dalam mengelola laga berisiko tinggi. Contohnya, Persib Bandung kontra Persija Jakarta di Stadion GBLA pada Bulan Januari lalu tetap berjalan kondusif berkat koordinasi matang antara aparat dan pemerintah daerah. Zaini menuturkan, "Yang perlu diingat, saat pertandingan di Bulan Januari lalu, Persib menjamu Persija di GBLA, jalanan begitu lancar dan kondusif. Masuk stadion juga begitu bagus, jalanan juga tidak ada konvoi, karena di Bandung seluruh kecamatan digalakkan dan digalang untuk menonton bersama, termasuk di Kabupaten dan kota yang ada di Jabar," ungkapnya.
Menurutnya, kunci utama keberhasilan penyelenggaraan tersebut adalah komunikasi dan kolaborasi yang kuat antar pemangku kepentingan. Ia menambahkan, "Aparat keamanan berkoordinasi dengan bupati dan walikota dengan intensif, sehingga benar-benar pertandingan Persib lawan Persija yang biasanya panas bukan hanya di dalam lapangan tapi di luar juga, benar-benar tertangani dengan baik," tambahnya.
Di sisa kompetisi yang tinggal menyisakan enam pertandingan, Zaini berharap seluruh laga dapat digelar secara normal tanpa intervensi berlebihan. Ia menekankan bahwa sepak bola harus tetap berdiri di atas kepentingan publik dengan menjunjung tinggi sportivitas serta keterbukaan. Ia berkata, "Saya harapkan ke depan. dengan sisa enam pertandingan, berjalan semua adanya. Termasuk nanti, Persib dijamu Persija di Gelora Bung Karno, Jakarta atau di kota-kota lainnya,".
Ia menutup dengan pesan bahwa sepak bola harus berdiri di atas kepentingan masyarakat dan dijunjung fair play di setiap pertandingan yang melibatkan penonton, suporter, dan pihak terkait. "Sepak bola harus berdiri di atas kepentingan masyarakat dan termasuk dijunjung fair play di setiap pertandingan yang melibatkan penonton, suporter, dan pihak-pihak terkait," pungkasnya.
Keputusan tentang pertandingan tanpa penonton dan pemindahan lokasi tetap menjadi isu penting dalam Super League 2025/26. Fokus utama adalah koordinasi yang kuat antara aparat keamanan, penyelenggara, dan pihak berwenang lainnya, sekaligus menjaga atmosfer yang mendukung pengalaman menonton bagi suporter. Dengan sisa enam pertandingan, harapan semua pihak adalah agar kompetisi dapat berlangsung normal, aman, dan adil bagi semua tim yang terlibat.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SDN 2 Salakaria: 32 Murid, 8 Guru, Semangat Belajar Tak Padam
Tasikmalaya Siaga Darurat Kekeringan hingga September
Petani Indramayu Bangga Garap Sawah, Biayai Kuliah Anak Hingga Sarjana
Dedi Mulyadi Temukan 11 Perusahaan Kapur Ilegal di Cipatat
Kebakaran di Ciamis Hanguskan Bangunan Berisi Enam Usaha
Belasan ASN di Pangandaran Bercerai, Judi Online Jadi Pemicu
