48 Migran Klungkung Jadi Terapis Spa di Timur Tengah
Gambar atau konten salah?
Sejumlah 48 pekerja migran Indonesia yang berasal dari Klungkung sudah dikirim ke negara-negara Timur Tengah untuk bekerja sebagai terapis. Program ini merupakan bagian dari pelatihan tenaga kerja Pemerintah Kabupaten Klungkung yang diberi nama beri kail bukan ikan.
Program pelatihan spa dimulai pada tahun 2022 dan berlanjut hingga 2025. Setiap tahun, 20 orang menerima pelatihan. Hingga saat ini, 80 orang telah mengikuti program tersebut.
"Pelatihan spa diawali tahun 2022. Per tahun ada 20 orang yang diberi pelatihan. 48 orang sudah berangkat dan bekerja sebagai terapis spa di beberapa negara di Timur Tengah, seperti Dubai, Turki, dan Kuwait," kata Kepala Bidang Pelatihan Produktivitas dan Transmigrasi Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Klungkung, Edy Santosa. Program ini diluncurkan pada 27 April 2026 saat Edy menyampaikan informasi tersebut.
Selain yang sudah berangkat, masih ada 11 orang yang menunggu proses dokumen keberangkatan dan 14 orang yang bekerja di dalam negeri sebagai terapis spa. "Sedangkan 11 orang masih dalam proses dokumen keberangkatan dan 14 orang bekerja di dalam negeri sebagai terapis spa. Untuk gaji di kisaran Rp 13 sampai Rp 15 juta per bulan. Itu untuk gaji pokoknya," tambah Edy.
Program pelatihan tidak hanya terbatas pada spa. Disnaker Klungkung juga menyediakan pelatihan dan keberangkatan di sektor perhotelan. Secara keseluruhan, 780 PMI telah diberangkatkan, dan sebagian besar bekerja di Italia, khususnya di bidang hospitality.
Bupati Klungkung, I Made Satria, mengapresiasi keberhasilan program ini. Saat memberikan arahan kepada dua PMI yang akan berangkat ke Turki, ia menyatakan, "Saya sangat mengapresiasi semangat kalian selama mengikuti pelatihan sehingga kalian mampu mewujudkan impian untuk bekerja keluar negeri," katanya.
Program beri kail bukan ikan dirancang untuk memberdayakan keahlian dan meningkatkan kemandirian ekonomi. Ia menargetkan keluarga berpenghasilan tidak mampu yang memiliki keinginan bekerja ke luar negeri. Program ini mencakup seluruh biaya pelatihan, pengurusan dokumen, serta jaminan perlindungan bagi pekerja migran.
Dua PMI yang akan berangkat adalah Ni Wayan Murningsih dan Ni Luh Suyeni Purnawati Dewi, warga Dusun Karangsari, Desa Suana, Kecamatan Nusa Penida. Purnawati Dewi mengungkapkan, "Dahulu saya pikir mustahil. Tetapi, melalui program 'kail' ini, semua jalan dibukakan. Saya berangkat bukan untuk jadi beban, tetapi untuk mandiri dan mengangkat derajat orang tua," ia berkata.
Program ini menunjukkan upaya daerah dalam membuka peluang kerja bagi masyarakatnya, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri dan kemandirian. Dengan pelatihan dan dukungan yang komprehensif, para migran dapat menyesuaikan diri di pasar kerja internasional dan membawa manfaat bagi keluarga di tanah air.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Ledakan MAN 3 Padang: Pelaku Korban Bullying
Distribusi BBM di Medan Mulai Pulih
Bahlil Perintah SKK Migas Libatkan Pengusaha Lokal di Proyek Masela
85 Perusahaan Asing Berebut Proyek Sampah Jadi Listrik
Es Krim Baltic Tutup Setelah 87 Tahun
Luke Vickery Resmi Jadi WNI, Siap Bawa Indonesia ke Piala Dunia 2030
Gagal SNBP-SNBT? UT Buka Pendaftaran Sampai 22 Juli
Prabowo: Kesejahteraan Rakyat Butuh Biaya Besar