60 Babi di Desa Canggu Mati Tanpa Jejak, Suspek ASF
Gambar atau konten salah?
Peternak babi di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Bali, baru saja mengalami kehilangan besar. 60 ekor babi yang sudah dipelihara selama bertahun‑tahun tiba‑tiba mati tanpa jejak, meninggalkan kandang yang kosong dan hati pemilik yang hancur. Ketut Widanta hanya terdiam ketika melihat kondisi tersebut, menegaskan bahwa semua ternaknya telah gugur.
“Semua babi peliharaan saya mati. Totalnya 60 ekor, nggak ada yang tersisa di kandang,” tutur Widanta, Kamis (21/5/2026). Kata tersebut mengungkapkan rasa frustrasi yang mendalam, karena babi-babi tersebut sudah berusia lebih dari satu dekade dan siap panen.
Menurut Widanta, gejala penyakit yang menyerang ternak mulai muncul secara bertahap. Ia menyebutkan bahwa setiap babi menunjukkan bintik merah pada kulit dan menolak makan. Gejala ini, menurutnya, konsisten di setiap kejadian sejak 2018, ketika ia pertama kali mengalami kematian babi di peternakannya.
Widanta menuduh bahwa penyebabnya adalah African Swine Fever (ASF), virus yang dikenal sangat menular. Ia menjelaskan bahwa perubahan warna kulit menjadi kemerahan adalah tanda paling jelas dari infeksi. “Penularannya sangat cepat hingga menjangkiti seluruh populasi kandang hanya dalam hitungan hari,” ujarnya.
Menurutnya, virus ini biasanya tertular dalam satu pekan dan dapat menyebar dengan sangat cepat. “Jika satu ekor kena, semua pasti kena,” tambahnya. Penyakit ini menandai akhir bagi babi yang beratnya sudah mencapai 150 kilogram per ekor, posisi yang biasanya sudah siap panen.
Widanta mengakui bahwa ia tidak memiliki obat atau vaksin yang dapat menyelamatkan babi-babi tersebut. Ia hanya bisa menerima kenyataan bahwa belum ada solusi medis yang tersedia untuk melawan virus mematikan ini. “Saya hanya bisa pasrah,” kata ia dengan suara yang tegas.
Disperpa Badung, melalui Dinas Pertanian dan Pangan, segera merespons laporan kematian mendadak ini. Kepala Disperpa, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, menyatakan bahwa belum ada laporan resmi mengenai kasus ASF di Banjar Kayu Tulang, namun tim akan segera menelusuri informasi tersebut di lapangan.
“Sampai saat ini laporan terkait kasus penyakit African Swine Fever atau ASF di Banjar Kayu Tulang belum kami terima secara resmi. Namun demikian, kami akan menelusuri informasi terkait kejadian tersebut,” ujar Kepala Disperpa Badung, Anak Agung Ngurah Raka Sukadana, Kamis (21/5/2026).
Jika ditemukan bukti kasus kematian babi di wilayah Desa Canggu, Disperpa akan berkoordinasi dengan Balai Besar Veteriner Denpasar. Langkah ini penting untuk mengambil sampel jaringan ternak dan memastikan penyebab kematian melalui pemeriksaan laboratorium.
“Apabila benar ditemukan kasus kematian babi di wilayah Desa Canggu, Dinas akan segera berkoordinasi dengan Balai Besar Veteriner Denpasar. Hal ini penting untuk melakukan pengambilan sampel sebagai langkah peneguhan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium,” kata Raka Sukadana.
Selain di Desa Canggu, Disperpa Badung juga menerima laporan kematian babi mendadak dari beberapa wilayah lain di Badung. Petugas telah turun ke lokasi untuk melakukan penanganan awal, termasuk sosialisasi kepada peternak dan desinfeksi kandang guna mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut.
“Terkait laporan kematian mendadak pada ternak babi di beberapa wilayah memang ada. Kami telah menindaklanjuti dengan memberikan sosialisasi kepada peternak serta melakukan desinfeksi kandang guna mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut,” imbuhnya.
Meskipun belum ada vaksin untuk ASF, Disperpa menekankan pentingnya biosekuriti. Setiap tahun, Dinas menganggarkan pengadaan obat-obatan dan desinfektan. “Belum ada vaksin yang dapat digunakan untuk menangkal virus demam babi afrika atau ASF. Ia meminta peternak untuk memperketat pengawasan lalu lintas orang maupun barang yang keluar-masuk area peternakan,” jelas Raka Sukadana.
Ia juga mengimbau pemilik ternak untuk menghentikan kebiasaan memberi pakan dari sisa makanan industri pariwisata. Praktik swill feeding, atau memberi pakan dari limbah hotel dan restoran, tidak disarankan. Surat Edaran Kementerian Pertanian Nomor 8432/SE/PK.320/F/08/2025 menegaskan bahwa penularan ASF dapat terjadi melalui limbah makanan, orang, barang, kendaraan, pakan, dan media lain yang tercemar.
“Praktik pemberian swill feeding atau pakan dari limbah hotel atau restoran untuk ternak babi tidak disarankan sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Kementerian Pertanian Nomor 8432/SE/PK.320/F/08/2025. Penularan ASF tidak hanya dapat terjadi melalui limbah makanan tersebut, tetapi juga melalui orang, barang, kendaraan, pakan, dan media lain yang telah tercemar,” pungkas Raka Sukadana.
Kasus ini menyoroti betapa rentannya peternakan babi di wilayah pesisir terhadap penyakit menular. Tanpa vaksin, peternak harus mengandalkan biosekuriti ketat dan pengawasan yang cermat untuk melindungi ternak mereka. Di tengah situasi ini, koordinasi antara peternak, pemerintah, dan lembaga veteriner menjadi kunci untuk mencegah penyebaran lebih lanjut dan meminimalisir kerugian ekonomi yang signifikan.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
