77 Tahun Ester Sri Suwarni Viral di Instagram, 500 Video
Gambar atau konten salah?
Di pulau Bali, di Kelurahan Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, seorang wanita berusia 77 tahun bernama Ester Sri Suwarni tetap aktif di media sosial. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, semangatnya mengikuti tren zaman tidak pernah pudar.
Konten yang ia bagikan tidak berfokus pada ulasan makanan atau permainan online. Sebaliknya, ia memperlihatkan aktivitas sehari‑harinya sebagai warga biasa. Video‑video yang menampilkan proses menjahit atau perjalanan ke pasar justru mendapatkan simpati publik.
Semua dimulai ketika anaknya menyarankan Ester untuk membuat akun Facebook. Tujuannya adalah menyimpan foto‑foto keluarga agar momen kebersamaan tetap terabadikan. Ia juga sering mengunggah foto dirinya ketika bepergian ke luar kota.
Seiring berjalannya waktu, Ester mengetahui adanya fitur Facebook Profesional yang memungkinkan penghasilan ketika aktif mengunggah video. Dari situ, ia memutuskan untuk membuat konten secara lebih serius.
Dengan hobi bernyanyi, Ester mulai mengunggah video tarik suara lagu‑lagu di era digital. Video‑nya bukan lip‑sync; ia menirukan suara asli. Hingga kini, ia telah membuat 500 video. Namun, selama dua tahun ia belum mendapatkan monetisasi.
“Terus saya tanya gimana saya ngonten sudah dua tahun kok nggak pernah monetisasi, terus saya dikasih arahan kalau lip‑sync itu nanti suaranya ada pembatasan kadang ada kesalahan kalau pingin monetisasi harus konten original,” kata Ester.
Setelah menerima saran tersebut, Ester memutuskan untuk mengubah gaya kontennya. Ia tidak lagi bernyanyi, melainkan merekam aktivitas sehari‑harinya. Ia menyadari bahwa membuat konten tidak mudah, apalagi konsisten dalam mengunggah.
“Saya dipacu terus harus konsisten, satu hari 2‑3 video, kalau bisa seminggu jangan 1‑2 kali, kapan mau monetisasi,” ujar Ester.
Dengan kemampuan bercerita yang cerdas, Ester rajin membuat video apa pun yang sedang ia lakukan. Ia merekam perjalanan ke gereja, jalan‑jalan bersama anak cucunya, serta kunjungan ke teman. Selama proses, ia langsung memegang gawai di tangan kanan dan merekam setiap kejadian sambil menarasikan kegiatan yang sedang ia lakukan.
“Terus lama‑lama kok penontonnya banyak‑banyak, saya tidak tahu kok bisa ke Instagram. Instagram saya lama punya, tetapi saya tidak tahu masuk ke Instagram, saya tahunya dikasih tahu teman kalau video saya viral,” jelas Ester.
Video tersebut segera menjadi viral di Instagram. Video tersebut dilihat sebanyak dua juta orang. Dari situ ia menerima monetisasi sebesar Rp 500 ribu.
Ester merasa kontennya tidak terlalu bagus dari segi isi, editing, maupun resolusi. Ia hanya rajin mengunggah setiap hari dan melakukan interaksi kepada warganet.
“Mungkin dua bulan yang lalu itu sudah ribuan, saya itu kalau malam balasin komentar satu‑satu, lama‑lama saya dapat endorse, dapat kiriman uang dari penggemar, ada yang datang dari Surabaya ke sini untuk kolaborasi konten,” beber Ester.
Penghasilannya kini tidak hanya dari menjahit. Ester mulai mendapat tawaran kerja sama dari kedai kopi, restoran, hingga kolaborasi dengan kreator konten lain. Setiap video mendapatkan minimal 10 ribu penonton.
Anak‑anaknya juga mendorong Ester agar aktif berkonten agar ada kegiatan selain menjahit, sekaligus mendapatkan penghasilan tambahan.
Ester menjadi gambaran kerja keras seorang perempuan Indonesia yang tidak lekang oleh zaman. Menurutnya, makna Hari Kartini di era sekarang adalah perempuan Indonesia sekarang bisa sederajat dengan laki‑laki.
“Sekarang banyak wanita yang derajatnya lebih tinggi dari laki‑laki. Nah itu sudah tidak bisa diubah, mungkin era sekarang dan dahulu lain, kalau bagi saya begitu,” ungkap Ester.
“Kalau sekarang kan nggak, wanita‑wanita berkarir sekarang sekolahnya tinggi‑tinggi, sekarang bisa memiliki beberapa bahasa bisa, dahulu nggak bisa,” tambahnya.
Dengan kisahnya, Ester menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk mengikuti perkembangan digital. Ia terus berkarya, berinteraksi, dan menginspirasi generasi muda serta keluarga di sekitarnya.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
