Bitcoin Naik 12% di Tengah Ketegangan Timur Tengah 2026
Gambar atau konten salah?
Bitcoin tetap menunjukkan ketahanan yang kuat meski ketegangan geopolitik di Timur Tengah terus meningkat. Data dari bursa kripto Indodax menandakan bahwa harga Bitcoin naik sekitar 12% dalam dua bulan terakhir, berada di kisaran US$ 70.000 hingga US$ 71.000 atau sekitar Rp 1,2 miliar (kurs Rp 16.904) pada perdagangan Selasa, 24 Maret 2026.
Perbandingan dengan aset tradisional menunjukkan pergerakan yang berbeda. Indeks S&P 500 turun sekitar 4%, sementara harga emas menurun hingga 16% dan mencapai level terendah sejak 1983, menyentuh US$ 4.400 per ons troi. Ketidakseimbangan ini menandakan bahwa Bitcoin lebih stabil dibandingkan emas dan saham dalam periode ketidakpastian pasar.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa kondisi ini meningkatkan minat investor terhadap Bitcoin sebagai lindung nilai. Menurutnya, kinerja kuat Bitcoin saat krisis sudah menjadi pola yang pernah terjadi seperti pada krisis pandemi COVID‑19, ketegangan AS‑Iran 2020, hingga konflik Rusia‑Ukraina.
“Karakteristik Bitcoin yang terdesentralisasi, dapat diperdagangkan 24 jam, serta tidak bergantung pada sistem perbankan konvensional menjadikannya relevan di tengah terganggunya stabilitas sistem keuangan akibat konflik geopolitik. Hal ini membuat Bitcoin memiliki fungsi praktis sekaligus potensi sebagai alternatif lindung nilai,” jelas Antony dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu, 25 Maret 2026.
Di sisi lain, Greg Shearer, Kepala Strategi Logam di JPMorgan, menyoroti penurunan harga emas dipicu aksi sell‑off di tengah lonjakan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah. Aksi ini meningkatkan kekhawatiran inflasi, sementara penguatan dolar AS dan keuntungan obligasi membuat emas kurang menarik dibandingkan aset imbal hasil.
Ketegangan di Selat Hormuz, jalur distribusi energi global, juga menambah risiko inflasi karena lonjakan harga minyak. Kondisi ini memicu penurunan ekspektasi kebijakan The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, sehingga emas—yang tidak memberikan imbal hasil rutin—kurang menarik bagi investor institusional.
Walaupun pasar kripto masih berada dalam fase volatil, sentimen cenderung berhati‑hati. Faktor makro ekonomi seperti inflasi dan kebijakan suku bunga tetap menjadi penentu arah pergerakan harga ke depan. “Investor disarankan untuk tetap memperhatikan manajemen risiko dan memahami dinamika pasar secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi,” tutupnya.
Secara keseluruhan, Bitcoin menunjukkan daya tahan yang lebih baik dibandingkan aset tradisional di tengah ketidakpastian geopolitik. Namun, volatilitas yang masih tinggi menuntut perhatian ekstra terhadap risiko dan manajemen investasi yang bijaksana.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tokenisasi Aset Nyata Diprediksi Tembus US$5,5 Triliun pada 2030
INDODAX Dorong Sertifikasi Wajib Influencer Kripto
Transaksi Kripto Mei 2026 Naik Tipis Jadi Rp23,01 Triliun
Tokocrypto Luncurkan Tokenized Stocks, Akses Saham Global 24 Jam
PAKD: Bursa Global Harus Tunduk pada Aturan Kripto RI
Bitcoin Terkoreksi Usai Sinyal Hawkish The Fed, Investor Diminta Waspada
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
