Bitcoin Naik 6% ke US$75K Setelah Blokade Selat Hormuz

Guntur P. · 3 min baca · 3 bulan lalu · 195 dibaca
Bisik.id
Bitcoin Naik 6% ke US$75K Setelah Blokade Selat Hormuz

Gambar atau konten salah?

Harga Bitcoin melonjak 6 % hingga hampir mencapai US$ 75.000 pada Senin, 13 April 2026. Lonjakan ini muncul setelah terjadinya short squeeze besar yang dipicu oleh blokade Selat Hormuz. Amerika Serikat menutup jalur tersebut, lalu Iran menanggapi dengan mewajibkan pembayaran “Tol Bitcoin” bagi semua kapal tanker yang melintasi selat itu.

Vice President INDODAX, Antony Kusuma, menjelaskan bahwa kenaikan ini menegaskan posisi kripto yang semakin kuat dalam menanggapi tekanan global. “Kenaikan harga Bitcoin di tengah kombinasi faktor geopolitik, inflasi dan dinamika pasar menunjukkan bahwa kripto semakin dipandang sebagai alternatif lindung nilai. Fenomena seperti penggunaan Bitcoin dalam aktivitas ekonomi lintas negara menjadi sinyal bahwa adopsi kripto terus berkembang, tidak hanya di level ritel tetapi juga dalam konteks global yang lebih luas,” kata Antony dalam keterangan tertulis, Kamis, 16 April 2026.

Short squeeze besar terjadi ketika banyak trader yang menaruh taruhan pada penurunan harga Bitcoin harus membeli kembali posisi mereka. Hal ini memaksa harga naik secara cepat. Iran, dengan mengenakan tarif setara US$ 1 per barel dalam bentuk Bitcoin, menciptakan permintaan organik yang masif. Sistem pembayaran berbasis blockchain ini memungkinkan Iran menjaga transaksi tetap berjalan sambil menghindari sanksi internasional.

Di sisi lain, inflasi di AS (CPI) naik ke 3,3 % pada Jumat, 10 April 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tren 1‑2 tahun terakhir yang rata‑rata berada di kisaran 2,4 %‑3 %. Kenaikan harga akibat konflik Timur Tengah menambah ekspektasi bahwa inflasi akan tetap tinggi, sehingga investor beralih ke aset alternatif seperti Bitcoin. Perubahan ini memperkuat narasi kripto sebagai safe haven di tengah tekanan pada mata uang konvensional.

Di kisaran harga US$ 74.000‑75.000 saat ini, pergerakan Bitcoin didukung oleh arus masuk dana (inflow) ke ETF Bitcoin spot. Nilai inflow mencapai sekitar US$ 1,94 miliar sepanjang Maret‑April 2026. Likuiditas ini memperkuat struktur harga dan menjaga momentum positif dalam jangka pendek.

Sentimen positif ini juga mendorong aset kripto lainnya. Berdasarkan data CoinMarketCap, Ethereum (ETH) naik 8 % ke level US$ 2.380, diikuti Solana (SOL) yang menguat 5,2 % ke US$ 86,60, serta BNB yang naik 3,2 % ke posisi US$ 615,50.

Menurut Antony, dinamika ini menunjukkan bahwa industri kripto mulai memasuki fase baru dalam adopsinya. “Jika sebelumnya kripto lebih banyak dipandang sebagai aset spekulatif, saat ini perannya mulai meluas ke ranah geopolitik dan perdagangan internasional. Ini adalah perkembangan yang penting karena memperlihatkan bahwa teknologi blockchain memiliki relevansi yang semakin nyata dalam sistem ekonomi global,” tambahnya.

Meski demikian, Antony mengingatkan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto. Faktor lain seperti kebutuhan likuiditas menjelang Producer Price Index dan penjualan pajak di AS, serta perubahan kebijakan moneter, berpotensi mempengaruhi pergerakan harga jangka pendek. Oleh karena itu, investor diimbau untuk tetap mengedepankan manajemen risiko dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen sesaat. Secara historis, April 2026 merupakan bulan positif bagi Bitcoin dengan rata‑rata kenaikan 69 % sejak 2013 ditutup di zona hijau.

INDODAX melihat perkembangan ini mencerminkan pergeseran peran kripto dari sekadar instrumen investasi menjadi bagian dari dinamika ekonomi global. Dalam hal ini, INDODAX berkomitmen untuk terus menyediakan platform yang aman dan transparan, serta mendukung investor Indonesia dalam memahami dan merespons peluang di industri aset digital secara lebih bijak guna mendorong terciptanya manfaat jangka panjang bagi para member.

Pergerakan harga Bitcoin yang kuat menunjukkan bahwa kripto semakin dianggap sebagai alat lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik dan inflasi. Peningkatan likuiditas melalui ETF spot dan adopsi lintas negara menandai fase baru di mana teknologi blockchain berperan lebih nyata dalam sistem ekonomi global.

BitcoinShort SqueezeSelat HormuzTol BitcoinInflasi ASETF SpotAdopsi Kripto

Komentar

Memuat komentar...