BMKG Denpasar Pemetakan Risiko Kekeringan El Nino di Bali

Yanto K. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 98 dibaca
Bisik.id
BMKG Denpasar Pemetakan Risiko Kekeringan El Nino di Bali

Gambar atau konten salah?

Stasiun Klimatologi BMKG Wilayah III Denpasar telah memetakan daerah di Bali yang berisiko kekeringan ketika El Nino terjadi. Pemetaan itu menunjukkan bahwa Buleleng sering mengalami kekeringan. “Jika dilihat dari data klimatologisnya wilayah yang notabene sering mengalami kekeringan di Bali, yaitu di wilayah Bali bagian utara, meliputi Buleleng bagian barat, utara, dan timur,” ujar Kepala Stasiun BMKG Wilayah III Denpasar, Aminudin Al Roniri, pada 02 April 2026.

Selain Buleleng, daerah selatan Bali juga rentan kekeringan akibat El Nino. Daerah-daerah tersebut meliputi Badung di Kuta Selatan, Klungkung di Nusa Penida, dan bagian selatan Karangasem. Daftar wilayah yang berpotensi kekeringan dapat dilihat sebagai berikut:

  • Badung – Kuta Selatan
  • Klungkung – Nusa Penida
  • Karangasem – bagian selatan

Aminudin menanggapi istilah “Godzilla El Nino” yang beredar di publik. Menurutnya, istilah itu tidak dikeluarkan oleh BMKG sebagai prediksi musim kemarau 2026. “Tetapi kami memberikan statemen bahwa musim kemarau 2026 ini diprediksi bersifat bawah normal karena adanya potensi El Nino kategori lemah yang diprediksi mulai di bulan Mei 2026,” jelas Aminudin. Ia menambahkan, istilah “Godzilla El Nino” merujuk pada El Nino dengan kategori kuat hingga sangat kuat.

Ia mengimbau pemerintah daerah untuk memaksimalkan pengelolaan sumber daya air. Langkah-langkah yang disarankan meliputi:

  • Pengelolaan waduk, embung, dan bendungan secara optimal
  • Pemantauan debit sungai dan cadangan air secara berkala
  • Perencanaan distribusi air irigasi yang efisien

Aminudin juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan kebakaran hutan dan lahan. Pemerintah diharapkan memperkuat koordinasi antarinstansi terkait pengelolaan risiko kekeringan. Untuk sektor pertanian, disarankan menyesuaikan kalender tanam dengan kondisi musim kemarau, menggunakan varietas tanaman tahan kekeringan, serta meningkatkan koordinasi antarpetani, subak, dan dinas pertanian.

Ia mengajak masyarakat agar menggunakan air dengan bijak dan hemat di wilayah rawan kekeringan. Langkah-langkah yang dapat diambil meliputi menyediakan cadangan air bersih, tidak melakukan pembakaran lahan atau sampah sembarangan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap suhu panas dan potensi kekeringan.

Dengan pemetaan dan rekomendasi ini, pihak BMKG berharap daerah Bali dapat lebih siap menghadapi potensi kekeringan yang dipicu oleh El Nino. Sumber daya air dan kebijakan mitigasi yang tepat menjadi kunci untuk mengurangi dampak negatif pada masyarakat dan sektor pertanian.

BMKGEl NinokekeringanBulelengBalimusim kemaraupengelolaan sumber daya air

Komentar

Memuat komentar...