Bola Api Tak Biasa di Desa Jegu, Bali Menyebar Ketertarikan

Yuli S. · 2 min baca · 1 bulan lalu · 99 dibaca
Bisik.id
Bola Api Tak Biasa di Desa Jegu, Bali Menyebar Ketertarikan

Gambar atau konten salah?

Tabanan – Di Desa Adat Jegu, Kecamatan Penebel, warga mulai mengamati sesuatu yang tak biasa: bola api yang muncul hampir setiap malam. Fenomena ini cepat menyebar lewat media sosial, menimbulkan ketertarikan warga dari luar desa.

Menurut Bendesa Adat Jegu Ida Bagus Komang Gangga, bola api sudah muncul sejak sekitar empat bulan lalu. Ia menjelaskan, “Fenomena ini sebenarnya sudah pernah terjadi empat bulan lalu. Kemudian sempat berhenti, dan muncul kembali setelah 10 hari pasca upacara ngaben lansia yang meninggal di Gunung Batukaru.”

Ia menambahkan bahwa bola api biasanya muncul ketika ada warga yang meninggal secara tidak wajar, atau dalam istilah Bali disebut ulah pati. Waktu munculnya berkisar antara pukul 19.00 hingga 23.00 Wita. Lokasi yang paling sering dilaporkan adalah setra (kuburan), kawasan pura prajapati, perempatan, dan perbatasan desa.

Untuk memahami lebih lanjut, Bendesa memanggil tetua desa dan meminta petunjuk dari seorang pedanda, seorang orang suci. Dari petunjuk tersebut, desa disarankan melakukan upacara pecaruan Eka Sata di pura kahyangan.

Setelah upacara dilaksanakan, fenomena mulai berkurang dan hanya muncul sesekali. “Itupun sinar bola apinya berwarna putih,” jelasnya. Sementara itu, warna putih menandakan sesuatu yang berbeda dari bola api biasa.

Karena fenomena ini menjadi tontonan bagi banyak orang, pihak desa mengerahkan pecalang. Tujuannya adalah mengamankan area di sekitar lokasi bola api, karena ada risiko pengunjung melakukan tindakan tidak pantas dan mengganggu kawasan yang disakralkan masyarakat setempat.

Secara pribadi, Ida Bagus Komang Gangga menilai bola api kemungkinan merupakan manifestasi energi spiritual, bukan ulah orang yang mempelajari ilmu pengeleakan. “Logikanya, tidak mungkin manusia sakti atau yang mempelajari ilmu leak keluar di jam-jam seperti itu. Dan itu sudah rahasia umum di Bali,” jelasnya.

Dia menegaskan bahwa kemunculan bola api tidak menimbulkan khawatir atau kepanikan di desa. Suasana tetap kondusif, dan warga melanjutkan kegiatan sehari‑hari tanpa gangguan. Warga pun tetap menghormati lokasi tersebut sebagai tempat suci.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana kepercayaan tradisional dan praktik keagamaan dapat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kejadian aneh, sekaligus menegaskan pentingnya pengelolaan ruang suci dalam konteks modern.

Bola apiDesa Adat JeguUpacara ngabenPura prajapatiUpacara pecaruan Eka SataEnergi spiritualKawasan suci

Komentar

Memuat komentar...