Daerah Diminta Siaga Hadapi Kebakaran TPA karena El Nino
Gambar atau konten salah?
Pemerintah daerah di seluruh Indonesia diminta bersiap menghadapi potensi kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah. Peringatan ini disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono. Ia menekankan bahwa ancaman ini semakin nyata karena fenomena El Nino yang diprediksi akan berlangsung hingga September mendatang.
"Sebab El Nino akan semakin buruk bulan ini sampai bulan September dan yang kebakaran saat ini udah bukan lahan saja. Jadi TPA pun juga bisa kebakaran juga," kata Diaz saat meninjau TPS 3R Desa Gulingan, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali, pada Rabu, 8 Juli 2026.
Menurut Diaz, kebakaran di area tumpukan sampah memiliki tingkat bahaya yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh akumulasi gas bawah tanah, terutama gas metana. Proses pemadaman kebakaran semacam ini tidak bisa dilakukan dengan cara konvensional. Diperlukan metode khusus agar tidak memicu ledakan yang lebih besar.
"Kebakaran TPA ini berisiko tinggi karena bisa meledak karena di bawahnya ada gas metana. Penangannya pun harus punya kecakapan khusus karena harus disuntik ke dalam," imbuh Diaz.
Untuk mencegah terulangnya peristiwa kebakaran TPA seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup telah menerbitkan surat edaran khusus. Edaran tersebut ditujukan kepada para kepala daerah dan berlaku per 1 Juli. Isinya memuat instruksi teknis mengenai langkah-langkah mitigasi di lapangan. Salah satu langkah yang disebutkan adalah melakukan pembasahan area sampah secara berkala.
Selain pengawasan lapangan, Kementerian Lingkungan Hidup juga tengah menyiapkan pembentukan satuan tugas khusus. Tim ini akan melibatkan lintas kementerian dan kedeputian. Tugas utama mereka adalah mendeteksi serta menginvestigasi titik panas di seluruh TPA. Hasil investigasi ini akan digunakan untuk memetakan area mana saja yang berisiko tinggi mengalami kebakaran.
"Semoga peristiwa-peristiwa 2023-2025 itu tidak terjadi lagi," kata Diaz.
Di sisi lain, Diaz juga menyoroti pentingnya pengolahan sampah dari hulu. Contohnya adalah sistem yang diterapkan di TPS 3R Desa Gulingan. Dengan mengurangi volume sampah organik yang dikirim ke TPA, maka pembentukan gas metana sebagai pemicu utama kebakaran bisa ditekan. Ini pada akhirnya akan mengurangi potensi fatalitas kebakaran di hilir.
Secara keseluruhan, peringatan ini menyoroti dua hal utama. Pertama, perlunya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem yang memperparah risiko kebakaran TPA. Kedua, pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya untuk mengurangi beban di tempat pemrosesan akhir.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
