Festival Wayang Bali Utara 9-11 April 2026 di Museum Soenda
Gambar atau konten salah?
Museum Soenda Ketjil di kawasan bekas Pelabuhan Buleleng, Singaraja, Buleleng, Bali, menampung lukisan wayang yang menampilkan cahaya matahari yang menembus tirai vertikal. Bingkai lukisan wayang dipajang di meja panjang, sementara wayang kulit beragam tokoh berdiri rapi di sudut lain, menunggu saatnya bercerita kembali.
Festival Wayang Bali Utara akan berlangsung pada 9 April 2026 hingga 11 April 2026 di museum tersebut. Ini merupakan acara pertama yang diselenggarakan di wilayah ini.
Direktur festival, Putu Ardiasa, menegaskan bahwa wilayah Bali Utara memiliki wayang yang khas dan unik, baik dari bentuk, cerita, maupun keberanian para dalang dalam bereksplorasi. Ia berharap festival ini dapat membangkitkan kembali ingatan kolektif tentang wayang di daerah tersebut.
Ardiasa menambahkan, “Bali utara punya karakter wayang yang berbeda. Bisa dilihat dari bentuk-bentuknya, termasuk wayang wong yang sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda sejak 2003, juga seni lukis wayang kaca di Nagasepaha.”
Menurutnya, kekayaan tersebut belum banyak diangkat dalam format festival. Museum Soenda Ketjil dipilih untuk membaca ulang Sunda Kecil melalui medium wayang, mengajak pengunjung membayangkan masa lalu dan mengaktualisasikannya dalam konteks kekinian.
Acara ini dirancang dengan pementasan tiga generasi dalang: dalang lingsir (tua) yang diwakili Jro Dalang Wayan Sudarma, dalang remaja oleh Jro Dalang Mangku Gede Upi, dan dalang alit (anak). Ada juga pertunjukan wayang inovatif Talajiwa dan wayang ental yang keluar dari pakem tradisional.
Ardiasa menegaskan, “Kami ingin menyuarakan kembali nilai-nilai dari Museum Soenda Ketjil. Bagaimana membayangkan Sunda Kecil zaman dulu, lalu menghidupkannya dalam kehidupan sekarang lewat pewayangan.”
Ia juga menyatakan, “Kami ingin menyuarakan bahwa wayang tidak harus mengangkat kisah Mahabarata dengan bahasa Kawi. Ternyata wayang bisa menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, bahkan bahasa tubuh sebagai media informasi.”
Selain pertunjukan wayang, rangkaian kegiatan mencakup diskusi, workshop pembuatan wayang kaca, dan wayang suket. Bagi Ardiasa, festival ini menjadi semacam ruang aktivasi budaya.
Di Buleleng, Ardiasa melanjutkan, wayang masih memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat. Misalnya, upacara keagamaan seperti ritual tiga bulanan di sejumlah desa terasa belum lengkap tanpa kehadiran wayang.
Ia menegaskan, “Wayang itu bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan dan tatanan. Tiga hal itu yang ingin kami suarakan.”
Ardiasa berharap festival ini menjadi pemantik untuk membuka kembali ingatan sejarah Bali Utara, khususnya Sunda Kecil. Ia menekankan bahwa wayang bukanlah seni yang statis, melainkan dapat terus tumbuh mengikuti zaman dan peradaban.
Dengan menampilkan berbagai generasi dalang, inovasi dalam bahasa, dan kegiatan kolaboratif, festival ini menunjukkan bahwa wayang tetap relevan dan mampu menyampaikan pesan kepada generasi baru.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Harga Batu Bara Juli 2026 Naik di Sebagian Besar Kategori
Iran Minta Houthi Siap Tutup Laut Merah, Dua Jalur Minyak Terancam
Pertamina Bantah Keras Transporter Mogok Salurkan BBM
Penjualan Batu Bara Sitaan Negara Raup Rp20 Miliar
Antrean SPBU Sumut Mulai Normal, Stok BBM Aman
Antrean BBM di Medan Mulai Terurai
Harga Minyak RI Anjlok Drastis ke US$83,45 per Barel
Serangan Iran di Selat Hormuz, Lalu Lintas Kapal Anjlok
MSCI Perketat Aturan Saham 'Murah' Mulai Agustus 2026
