Harga Bitcoin Turun Saat Ketegangan AS-Iran Picu Volatilitas

Dewi M. · 2 min baca · 4 bulan lalu · 106 dibaca
Bisik.id
Harga Bitcoin Turun Saat Ketegangan AS-Iran Picu Volatilitas

Gambar atau konten salah?

Harga Bitcoin menunjukkan fluktuasi yang signifikan akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang dimulai pada tanggal 28 Februari 2026. Ketegangan ini menyebabkan Iran menutup Selat Hormuz, yang berdampak pada lonjakan harga minyak menjadi US$ 80 per barel. Lonjakan harga ini juga memengaruhi harga emas dunia, yang saat ini bergerak di kisaran US$ 5.100 per troy ons. Pasar kripto juga tidak terhindar dari volatilitas, mengingat ia beroperasi 24 jam setiap hari.

Data dari Coinmarketcap menunjukkan bahwa Bitcoin mengalami koreksi harga ke level US$ 63.100 atau sekitar Rp 1 miliar pada akhir pekan. Namun, harga Bitcoin kembali bergerak naik di kisaran US$ 68.000, setara dengan Rp 1,16 miliar, dengan total kapitalisasi pasar kripto global mencapai US$ 2,33 triliun.

Menurut Antony Kusuma, Wakil Presiden INDODAX, fluktuasi harga Bitcoin mencerminkan reaksi pasar terhadap situasi geopolitik dan risiko makro. Dalam fase awal ketegangan, banyak investor cenderung bersikap risk-off untuk menjaga likuiditas. Ia menyebutkan, "Lonjakan dan koreksi dalam waktu singkat menunjukkan bahwa pasar sangat dipengaruhi oleh berita. Dalam kondisi ini, sentimen global dan kebijakan menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk saham dan kripto."

Jika ketidakpastian ini terus berlanjut, Antony menyarankan agar investor mempertimbangkan untuk beralih ke aset yang lebih aman. Ia menekankan pentingnya menghindari keputusan berdasarkan FOMO (fear of missing out), serta menerapkan diversifikasi dalam portofolio dan manajemen risiko yang disiplin.

Antony juga menjelaskan bahwa diversifikasi aset dapat dilakukan melalui sejumlah stablecoin yang saat ini menunjukkan penguatan, seperti Tether (USDT), USD Coin (USDC), dan Tether Gold (XAUT). "Dalam kondisi pasar yang tidak menentu, diversifikasi portofolio adalah pendekatan yang banyak dilakukan, termasuk mengalihkan sebagian investasi ke aset kripto yang lebih stabil seperti stablecoin atau aset berbasis emas," tambahnya.

Ia menegaskan komitmen untuk menjaga likuiditas, keamanan sistem, dan transparansi di tengah gejolak harga Bitcoin. Antony mengingatkan investor untuk tetap rasional dalam menghadapi volatilitas pasar, serta pentingnya disiplin dalam manajemen risiko dan memiliki perspektif investasi jangka panjang.

Secara keseluruhan, kondisi pasar saat ini mengharuskan investor untuk lebih berhati-hati dan mempertimbangkan langkah-langkah yang lebih aman dalam berinvestasi, terutama di tengah ketidakpastian yang ada.

Bitcoinhargavolatilitasgeopolitikinvestorstablecoinmanajemen risikolikuiditas

Komentar

Memuat komentar...