Jembatan Jawa-Bali Belum Terwujud, Nilai Budaya Menahan

Maya K. · 2 min baca · 2 bulan lalu · 93 dibaca
Bisik.id
Jembatan Jawa-Bali Belum Terwujud, Nilai Budaya Menahan

Gambar atau konten salah?

Jembatan antara Pulau Jawa dan Bali masih belum terwujud meski keduanya hanya berjarak 5 kilometer. Wacana pembangunan jalur penghubung ini sudah ada sejak lama, namun belum menjadi kenyataan karena berbagai alasan.

Ide pertama muncul pada 1960-an dengan nama proyek Trinusa Bima Sakti. Guru besar Institut Teknologi Bandung, Sedyatmo, mengusulkan rencana ini, namun langsung ditolak oleh sebagian masyarakat Bali. Setelah beberapa dekade, pada tahun 2012, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kembali mengajukan gagasan pembangunan jembatan. Usulan tersebut ditolak lagi, terutama oleh Pemkab Jembrana dan Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Alasan penolakan tidak hanya bersifat teknis. Selat Bali, yang memisahkan kedua pulau, terbentuk secara alami akibat proses geologi dan aktivitas tektonik yang berlangsung selama ribuan hingga jutaan tahun. Bagi masyarakat Bali, selat ini bukan sekadar batas alam; ia juga menjadi simbol pemisahan kultural, moral, dan spiritual. Konsep ini sejalan dengan filosofi hidup umat Hindu Bali yang melihat gunung, laut, dan daratan sebagai elemen simbolik yang menjaga keseimbangan kehidupan.

Kepercayaan dan mitologi Bali juga memainkan peran penting. Dalam cerita Sidi Mantra dan anaknya, Manik Angkeran, laut terbentuk sebagai “garis pemisah” antara mereka. Mitologi Hindu Bali menegaskan bahwa jembatan yang menghubungkan Jawa dan Bali dapat mengganggu tatanan keseimbangan alam dan kehidupan. Oleh karena itu, masyarakat Bali berusaha menjaga kesucian Pulau Dewata agar tetap selaras secara budaya dan spiritual, serta menghindari pengaruh luar yang dapat mengacaukan ketenangan.

Secara teknis, membangun jembatan di Selat Bali juga menimbulkan tantangan besar. Selat ini memiliki kedalaman dan arus yang cukup kuat, serta kondisi geologi yang tidak stabil. Selain itu, biaya yang dibutuhkan sangat tinggi, dan tidak ada jaminan bahwa investasi tersebut akan memberikan manfaat ekonomi yang sebanding. Pemerintah daerah di kedua pulau juga belum sepakat mengenai pembagian biaya dan tanggung jawab operasional.

Di sisi lain, peran masyarakat Bali tidak bisa diabaikan. Banyak warga yang merasa bahwa jembatan akan merusak nilai spiritual dan budaya pulau. Mereka menekankan pentingnya menjaga identitas lokal dan kepercayaan yang telah ada sejak lama. Penolakan ini juga mencerminkan keberlanjutan nilai-nilai budaya yang dianggap lebih penting daripada kemajuan infrastruktur.

Dengan demikian, alasan utama mengapa jembatan Jawa-Bali belum terwujud adalah kombinasi antara penolakan masyarakat, tantangan teknis, serta nilai budaya dan spiritual yang kuat di Bali. Meskipun jarak fisik singkat, perbedaan pandangan dan kepentingan membuat proyek ini masih terhenti.

Jembatan Jawa-BaliSelat BaliTrinusa Bima SaktiPemerintah Kabupaten BanyuwangiPersatuan Hindu Dharma Indonesiakepercayaan spiritual Balitantangan geologi

Komentar

Memuat komentar...