Kartini Go Surf: Kebaya Memerangi Ombak Pantai Kuta
Gambar atau konten salah?
Pantai Kuta, Badung, Bali menjadi panggung bagi puluhan perempuan yang menaklukkan ombak dengan papan selancar. Mereka tampil memakai pakaian tradisional, kebaya, dan kain batik, menambah warna pada panorama laut.
Acara ini, yang berjudul Kartini Go Surf, telah berlangsung sejak 2010 untuk memperingati Hari Kartini. Setiap tahun, komunitas perempuan dan penyandang tunarungu berkumpul di pantai ini untuk merayakan kebebasan dan keberanian.
“Orang surfing pakai bikini sudah biasa, pakai boardshort juga sudah biasa. Kita bangsa Indonesia harus bangga dengan Kartini kita,” ujar Penggagas Kartini Go Surf, Bagus Made Irawan alias Piping, di Pantai Kuta, Minggu (19 April 2026).
Piping menambahkan, “Kita nggak pernah ada di sini tanpa Kartini kita. Ibu saya adalah Kartini. Jadi, ini adalah perwujudan terima kasih saya kepada ibu saya sebenarnya dan kalian-kalian semualah,” imbuhnya.
Yayasan Corti turut mendampingi penyandang tuli. Sebanyak enam perempuan dari komunitas ini berselancar, didampingi pelatih yang menguasai bahasa isyarat. Mereka menampilkan keahlian dan semangat yang sama dengan peselancar lainnya.
Ketua Yayasan Corti, I Gusti Agung Ayu Mirah Maheswari, menyatakan ini merupakan kali ketiga yayasannya berpartisipasi. Ia menilai keikutsertaan peselancar putri tuli sebagai bentuk nyata gerakan inklusi dan emansipasi. “Kita sedang mendobrak batas ganda, stigma tentang keterbatasan fisik dan batasan tentang apa yang mampu dilakukan oleh seorang perempuan. Hari ini kita menegaskan kembali nilai-nilai Kartini. Kesetaraan adalah akses, kesempatan adalah prestasi, bukan belas kasihan,” ujar Mirah dalam sambutannya.
Intan, salah satu peserta tunarungu, telah belajar berselancar sejak 2023. Perempuan berusia 21 tahun itu mengaku senang bisa mengikuti ajang selancar Kartini Go Surf. “Jadi meskipun tadi memakai kebaya itu bukan tantangan. Nggak ada masalah,” ujar Intan melalui penerjemah bahasa isyarat.
Acara ini menegaskan bahwa olahraga selancar tidak hanya tentang keahlian fisik, tetapi juga tentang merayakan identitas dan hak perempuan. Perpaduan kebaya tradisional dengan papan selancar menjadi simbol semangat Kartini yang terus hidup di pantai ini.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
