Kurban Bali: Masyarakat Bagikan Daging ke Tetangga Hindu
Gambar atau konten salah?
Kampung Angantiga di Desa Petang, Badung, menyambut Hari Raya Idul Adha dengan suasana yang hangat. Asap dapur berpendar di sudut lahan kosong di depan masjid kampung, sementara warga sibuk menyiapkan hidangan. Di antara kesibukan itu, beberapa orang menyiapkan wadah berisi daging kurban yang akan dibagikan kepada tetangga mereka yang beragama Hindu. Tradisi ini, yang dikenal dengan istilah ngejot, menjadi wujud solidaritas antaragama di Bali.
“Termasuk juga dibagikan kepada saudara-saudara yang di Hindu, istilahnya ngejot. Kami mewarisi itu sejak berabad-abad, saling membagi rasa di hari kemenangan ini,” ujar Kepala Kampung Muslim Angantiga, Desa Petang, Badung, pada Rabu siang, 27 Mei 2026. Kata-kata tersebut menegaskan bahwa tradisi ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat.
“Terkait dengan pelaksanaan Hari Raya Idul Adha, memang untuk pemotongan hewan korban itu dilaksanakan oleh jamaah atau warga kampung semuanya. Itu kami kumpulkan dan diberikan lebih dulu ke para tetua adat,” imbuhnya. Proses penyembelihan dilakukan secara swadaya, dimulai sejak fajar hingga siang hari. Setelah daging selesai diproses, para tetua adat bertugas menyalurkan barang kepada warga.
“Artinya selain dibagikan juga nanti ke warga, kaum duafa juga. Artinya kami tetap utamakan untuk disalurkan juga khususnya kepada kaum fakir miskin,” jelasnya. Dalam setiap pembagian, perhatian utama diberikan kepada keluarga yang membutuhkan. Hal ini memastikan bahwa semua lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang keagamaan, dapat merasakan keberkahan Idul Adha.
“Kalau kami dari generasi yang sekarang, berharap untuk generasi yang selanjutnya biar ini tetap dilestarikan. Karena memang, dan ini termasuk keunikan, termasuk juga akan mempererat silaturahmi dengan warga yang saudara kami yang Hindu di sini,” pungkasnya. Harapannya, nilai toleransi dan persaudaraan yang terjalin akan terus berlanjut ke generasi berikutnya.
Di Kampung Islam Lebah, Kelurahan Semarapura Klod Kangin, Klungkung, tradisi serupa juga berlangsung. Kepala Kampung Islam Lebah, H Samsul Hakim, menjelaskan bahwa pembagian daging kurban kepada warga Hindu di sekitar wilayahnya rutin dilakukan setiap perayaan Idul Adha. “Memang setiap tahun kami lakukan seperti ini. Kami ingin membuktikan bahwa Islam ini rahmatan lilalamin. Jadi ketika kami bahagia kami akan bagi kebahagiaan itu, ketika kami bersedih kami akan meminta pertolongan pada Allah. Pembagian sendiri langsung kami lakukan di tempat penyembelihan,” ujar Samsul.
Menurut data yang dikumpulkan, pada perayaan Idul Adha tahun ini, panitia kurban di Kampung Islam Lebah menyembelih total 36 ekor hewan kurban. Dari jumlah tersebut, 29 ekor kambing dan 7 ekor sapi disembelih. Proses penyembelihan dimulai pukul 8 pagi dan berakhir sekitar pukul 14.30 Wita. Semua hewan yang berhak mendapatkannya sudah dibagikan tanpa terkecuali.
“Alhamdulillah, semua yang berhak mendapatkannya sudah kami bagikan semua tanpa terkecuali. Miskin-kaya semua dapat bagian dari total jumlah warga kami 643 KK,” papar Samsul. Ia menambahkan bahwa bagi warga yang kurang beruntung dan tergolong fakir miskin, mereka diberikan lebih jika ada sisa dari pembagian. “Untuk warga yang kurang beruntung dan tergolong fakir miskin, kami berikan lebih jika ada sisa dari pembagian. Alhamdulillah, kami habiskan semuanya hari ini,” imbuhnya.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Klungkung, H Agus Radiman, menyatakan bahwa di Klungkung terdapat 196 hewan kurban, terdiri dari 154 ekor kambing dan 42 ekor sapi. Proses penyembelihan akan berlangsung sampai 12 Zulhijjah atau 29 Mei 2026. “Jadi kurban ini tidak hanya untuk kaum muslimin, tapi akan kami bagikan untuk saudara-saudara kami yang nonmuslim,” jelas Agus.
Di bagian lain, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Bali juga turut berpartisipasi. Wakil Ketua LDII Bali, Hardilan, menuturkan bahwa tradisi ngejot telah dilakukan turun-temurun oleh nenek moyang mereka di sekitar komplek LDII Bali setiap Idul Adha. “Kalau di sini kan dilihat memotong dan sebagainya,” sambungnya. Ia mengutip hadits Rasulullah yang menekankan kewajiban memberi kepada tetangga ketika melihat atau mencium aroma masakan. “Kalau di sini kan dilihat memotong dan sebagainya,” tambahnya.
Hardilan juga menegaskan bahwa seluruh LDII di kabupaten/kota menerapkan hal yang sama. Total bingkisan daging kurban yang diberikan untuk tradisi ngejot sebanyak 10 ribu paket. “Dengan melihat kegiatan kita selama ini otomatis kita berkeyakinan insyaallah yang muda bisa meneruskan. Karena tradisi ngejot ini sudah dari nenek moyang di Bali, di Jawa pun demikian,” tandasnya.
Seorang warga nonmuslim, Anak Agung Ngurah Suwarta, menerima bingkisan daging kurban dengan suka cita. “Ini sudah yang kesekian kalinya hampir setiap tahun karena kita sudah bertetangga dari lama banget sudah kayak saudara lah,” tuturnya. Ia merasa senang turut terlibat perayaan Idul Adha umat muslim. Hubungan Ngurah dengan pengurus masjid sangat dekat dan hangat. “Kalau dibilang penting ya penting kan kewajiban umat muslim ya untuk bersedekah lewat kurban saat Idul Adha,” terangnya.
Tradisi ngejot di Badung dan Klungkung menunjukkan betapa kuatnya nilai toleransi dan persaudaraan antaragama di Bali. Dengan membagikan daging kurban kepada warga Hindu dan nonmuslim, umat Muslim tidak hanya menegaskan kewajiban religius mereka, tetapi juga memperkuat hubungan sosial di komunitas. Praktik ini, yang telah berlangsung selama berabad-abad, terus berfungsi sebagai jembatan antaragama, menjaga kedamaian dan keharmonisan di wilayah tersebut.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah