Lonjakan Harga Minyak Dorong Penjualan Mobil Listrik Global
Gambar atau konten salah?
Perang antara Iran dan Israel menimbulkan lonjakan harga minyak mentah dunia. Ketika harga minyak naik, harga bahan bakar di Indonesia pun ikut melonjak. Banyak pemilik kendaraan mulai khawatir, sehingga minat terhadap mobil listrik meningkat.
Di Manila, dealer BYD menerima pesanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Seorang tenaga penjual BYD bernama Matthew Dominique Poh mengungkap bahwa ia telah menerima pesanan setara satu bulan dalam dua pekan terakhir. “Konsumen mengganti kendaraan mereka dengan mobil listrik karena kenaikan harga minyak,” ungkap Poh.
Situasi serupa terjadi di Hanoi. Dealer mobil VinFast melaporkan peningkatan kunjungan konsumen hingga empat kali lipat. Nguyen Hoang Tu Anh menyebut showroom VinFast bahkan harus merekrut lebih banyak staf. Dealer tersebut mencatat penjualan 250 unit mobil listrik dalam tiga minggu sejak peristiwa perang. “Setidaknya per hari ada 80 unit terjual, jumlahnya dua kali lipat dari rata-rata tahun 2025,” kata Nguyen.
Salah seorang pembeli VinFast, Lai The Manh Linh, mengungkapkan alasan peralihan ke kendaraan listrik. “Beralih ke mobil listrik akan membantu kami menghemat uang secara signifikan,” katanya. Ia menukar Toyota Vios bensin dengan VinFast 5.
Di luar Filipina dan Vietnam, BYD di Selandia Baru juga mencatat lonjakan penjualan tajam, bahkan empat kali lipat dari biasanya. Di timur laut Bangkok, tiga dealer MG melaporkan kenaikan penjualan 20 persen sejak perang Iran.
Chief Economist of the Asian Development Bank, Albert Park, menyatakan bahwa transisi ke kendaraan listrik semakin cepat akibat lonjakan harga minyak. “Tingginya harga minyak selalu membantu ke transisi kendaraan listrik. Ini menciptakan insentif ekonomi untuk mempercepat transisi hijau,” katanya.
Secara global, penggunaan kendaraan listrik membantu mengurangi konsumsi setara 2,3 juta barel minyak per hari pada tahun lalu. Namun, untuk mempertahankan minat konsumen, industri harus berinvestasi besar-besaran pada infrastruktur pengecasan. Saat ini, infrastruktur pengecasan kendaraan masih terbatas.
Para produsen mobil listrik asal China diprediksi akan meraup sebagian besar keuntungan dari lonjakan penjualan di pasar global. Sementara produsen non-China yang sudah memiliki mobil listrik juga dapat memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan penjualan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan bakar akibat konflik di Timur Tengah turut mendorong pergeseran ke kendaraan listrik. Hal ini menandai peluang bagi produsen mobil listrik untuk memperluas pangsa pasar di berbagai negara.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Toyota Panggil Produsen Jepang Bersatu Lawan Mobil China
Tragedi Indramayu: 12 Tewas Akibat Pikap Angkut Manusia
BYD Tabrak Kaca Gedung SCBD, Sopir Salah Injak Pedal
Mitsubishi Luncurkan XForce Hybrid, SUV Irit Pertama
Recall Stiker, Subaru Tarik 541 Ribu Mobil di AS
Rincian Tarif SWDKLLJ 2025, Dari Motor hingga Truk
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
