Malaysia Turunkan Kuota BBM Subsidi, Dampak Harga Minyak
Gambar atau konten salah?
Ketika Selat Hormuz tertutup akibat konflik di Iran, seluruh kawasan Asia Tenggara merasakan tekanan tinggi pada pasokan minyak. Malaysia, salah satu negara yang paling terpengaruh, menyiapkan langkah untuk menekan kuota bahan bakar subsidi.
Program subsidi Budi95 di Malaysia menjual bensin RON 95 seharga 1,99 ringgit per liter, setara dengan Rp 8.400‑an. Namun, kenaikan harga minyak dunia membuat pemerintah mempertimbangkan pemotongan kuota bulanan bagi bensin subsidi.
Menurut laporan media lokal Malaysia, The Edge, kuota BBM subsidi yang sebelumnya ditetapkan 300 liter per bulan per orang akan dipangkas menjadi 200 liter per bulan. Pembatasan ini akan mulai berlaku pada April 2026. Bila konsumen melewati batas tersebut, sisa pembelian akan dikenai harga pasar yang lebih tinggi.
Malaysia sudah dua kali menaikkan harga bensin RON 95 non‑subsidi sejak 11 Maret 2026. Kenaikan tersebut mencapai 44,94 persen, dari 2,67 ringgit (Rp 11.200‑an) menjadi 3,87 ringgit (Rp 16.300‑an) per liter.
Pengurangan kuota ini dipandang sebagai langkah fiskal yang diperlukan. Kementerian Keuangan Malaysia menghadapi tagihan subsidi yang bisa mencapai 24 miliar ringgit (Rp 101,5 triliun) tahun ini, jika harga minyak mentah dunia tetap di atas US$ 110 per barel. Penyebab utama kenaikan harga minyak dunia adalah gangguan jalur Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama bagi 20 persen pasokan minyak global.
Perdana Menteri Anwar Ibrahim mengungkapkan bahwa subsidi bulanan nasional untuk bahan bakar jenis RON 95 dan solar telah naik dari 700 juta ringgit menjadi 3,2 miliar ringgit, setara dengan US$ 177,4 juta menjadi US$ 810,9 juta (Rp 2,9 triliun menjadi Rp 13,6 triliun, dengan asumsi kurs Rp 16.869).
Meskipun Malaysia merupakan negara penghasil minyak, negara ini tetap bergantung pada impor. Hampir separuh pasokannya datang melalui rute yang terdampak konflik tersebut. Data tahun lalu menunjukkan Malaysia mengekspor minyak senilai US$ 5,5 miliar, namun harus mengimpor hingga US$ 12,6 miliar. Artinya, negara ini mengalami defisit lebih dari US$ 7 miliar.
“Malaysia memang menghasilkan minyak, tetapi kita juga mengimpor lebih banyak minyak daripada yang kita ekspor,” tambah Anwar.
Dengan langkah pemangkasan kuota subsidi, pemerintah Malaysia berusaha menyeimbangkan kebutuhan energi domestik dan tekanan fiskal akibat harga minyak global. Kebijakan ini menandai upaya negara untuk menyesuaikan diri dengan dinamika pasokan energi dunia yang terus berubah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Toyota Panggil Produsen Jepang Bersatu Lawan Mobil China
Tragedi Indramayu: 12 Tewas Akibat Pikap Angkut Manusia
BYD Tabrak Kaca Gedung SCBD, Sopir Salah Injak Pedal
Mitsubishi Luncurkan XForce Hybrid, SUV Irit Pertama
Recall Stiker, Subaru Tarik 541 Ribu Mobil di AS
Rincian Tarif SWDKLLJ 2025, Dari Motor hingga Truk
