Okupansi Hotel Bali Lebaran 2026 Turun 65-70 Persen
Gambar atau konten salah?
Ocupansi hotel di Bali selama libur Nyepi dan Lebaran 2026 berada di kisaran 65 hingga 70 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan Lebaran tahun lalu, khususnya bagi wisatawan domestik.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali menyatakan bahwa kenaikan okupansi pada minggu tersebut tidak signifikan. I Gusti Agung Rai Suryawijaya, Wakil Ketua PHRI Bali, mengungkapkan hal tersebut pada 26 Maret 2026:
“Selama minggu itu memang ada kenaikan, tapi tidak signifikan, khususnya dari wisatawan domestik. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya. Ia menambahkan, “Lebaran tahun lalu cukup bagus peningkatannya. Kalau tahun ini mungkin 10 persen. Tahun lalu bisa sampai 15 persen.”
Menurut Rai, penyebab utama penurunan ini adalah persaingan tempat wisata domestik, terutama di Pulau Jawa. Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banyuwangi kini menawarkan jumlah destinasi wisata yang lebih banyak.
Ia menegaskan bahwa infrastruktur penunjang di daerah-daerah tersebut semakin mendukung, sehingga wisatawan nusantara memiliki lebih banyak pilihan selain Bali.
Faktor lain yang mempengaruhi adalah harga tiket pesawat ke Bali yang masih tinggi. Mahalnya tiket perjalanan domestik membuat beberapa wisatawan memilih berlibur ke luar negeri. “Banyak juga yang justru lari ke luar negeri karena hampir sama harga tiket ke Singapura, ke Bangkok, Thailand, apalagi Vietnam,” kata Rai.
Di sisi lain, kondisi geopolitik di Timur Tengah juga berdampak pada kunjungan turis mancanegara. Beberapa penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai dibatalkan akibat penutupan bandara di beberapa negara Timur Tengah.
Rai menyatakan upaya agar wisatawan Eropa yang masih ingin berlibur dapat melalui reroute penerbangan yang tidak lewat Qatar, Doha, Dubai, atau Arab Saudi. “Bisa melalui China, Taipei, bisa,” ujarnya.
Secara keseluruhan, tingkat okupansi yang menurun menunjukkan tantangan bagi industri pariwisata Bali. Persaingan domestik, harga tiket, dan faktor geopolitik menjadi penyebab utama. Penyedia layanan di Bali perlu menyesuaikan strategi agar tetap menarik bagi wisatawan, baik lokal maupun internasional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
SJB Desak PN Denpasar Tolak Gugatan Togar ke Empat Media
Sopir Bus Ditemukan Meninggal di Kapal Feri Gilimanuk
DPRD Gianyar Setujui APBD 2025
Nusa Penida Bertransformasi Jadi Pulau Hijau
Bali Gabungkan Sekolah Sepi Murid, Jadi Solusi Kekurangan Guru
163 Siswa Miskin di Bali Diterima di Sekolah Rakyat Gratis
Berita Terbaru
Dalang Pencurian Louvre Kecewa, Hasil Rampasan Terlalu Sedikit
Wasit AS Pimpin Inggris vs Argentina di Semifinal Piala Dunia 2026
Kiper Bandung Pilih Persija, Aqil Akui Butuh Waktu
Lelang Frekuensi 700 MHz & 2,6 GHz Resmi, Ini Pemenangnya
Bootcamp Akuntansi Siap Bantu Rapiin Laporan Keuangan
Trump Tawarkan AS Jadi Penjaga Selat Hormuz, Minta Tarif 20%
