Pajak Kendaraan Malaysia Ringan Meski Pendapatan Lebih Tinggi
Gambar atau konten salah?
Pajak kendaraan di Malaysia ternyata lebih rendah dibandingkan di Indonesia, meski pendapatan per kapita masyarakatnya lebih tinggi. Hal ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana bisa begitu?
Menurut Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara menjelaskan bahwa komposisi pajak mobil di Indonesia bisa berkisar 36‑128 persen untuk mobil bensin, sementara di Malaysia hanya 10‑85 persen.
Ia juga menyebutkan data GDP yang dipublikasikan Gaikindo: “Padahal, menurut data yang dimuat Gaikindo, GDP Indonesia hanya US$ 4.900. Sedangkan Malaysia sudah tembus US$ 12.600 atau 2,5 kali lipat lebih besar dibandingkan Indonesia.”
“Indonesia saat ini GDP-nya di kisaran US$ 5 ribu, Malaysia berapa, Thailand berapa, kita bisa bikin perbandingan,” ujar Kukuh Kumara kepada pihak media di kantor Gaikindo, Menteng, Jakarta Pusat.
Ia menambahkan: “Saat ini, dengan GDP di bawah Malaysia, pajak di Malaysia lebih rendah. Jadi itu kajian‑kajian yang perlu dilakukan, supaya kita nggak egois dan masyarakat merasakan manfaatnya. Kembali biar industri tumbuh, ekonomi juga tumbuh.”
Komposisi pajak mobil di Indonesia meliputi PKB (Pajak Kendaraan Bermotor), Bea Balik Nama, PPN (Pajak Pertambahan Nilai), PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah), serta biaya penerbitan STNK, pelat nomor, dan BPKB.
Sementara itu, di Malaysia tidak ada pungutan BBNKB. Luxury tax atau PPnBM-nya sangat kecil, bahkan tak sampai 1 persen. Hal ini menjelaskan mengapa harga kendaraan di Tanah Melayu umumnya lebih murah.
Untuk pajak tahunan, Kukuh memberikan contoh: “Ambil contoh, Avanza di Indonesia pajak tahunannya Rp 4‑5 juta setahun. Kendaraan sama diekspor ke Malaysia, di sana pajak tahunannya Rp 600 ribu setahun. Jadi itu perbandingannya.”
Perbandingan ini menunjukkan bahwa meski pendapatan per kapita Malaysia lebih tinggi, struktur pajak kendaraan di sana lebih ringan. Faktor-faktor seperti tidak adanya BBNKB dan PPnBM rendah menjadi kunci utama. Dengan memahami perbedaan ini, pihak industri di Indonesia dapat menyesuaikan strategi agar tetap kompetitif di pasar regional.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Toyota Panggil Produsen Jepang Bersatu Lawan Mobil China
Tragedi Indramayu: 12 Tewas Akibat Pikap Angkut Manusia
BYD Tabrak Kaca Gedung SCBD, Sopir Salah Injak Pedal
Mitsubishi Luncurkan XForce Hybrid, SUV Irit Pertama
Recall Stiker, Subaru Tarik 541 Ribu Mobil di AS
Rincian Tarif SWDKLLJ 2025, Dari Motor hingga Truk
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
