Pelemahan Bitcoin Terus Berlanjut, Tertekan Tarif Global AS
Gambar atau konten salah?
Bitcoin (BTC) mengalami penurunan pada perdagangan hari Senin, 23 Februari 2026. Hampir semua token kripto mengalami pelemahan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan tarif global sebesar 15%.
Berdasarkan data dari Coinmarketcap, pada pukul 18.10 WIB, harga BTC tercatat turun 2,77% dalam 24 jam terakhir, menjadi US$ 66.309 atau sekitar Rp 1,11 miliar dengan asumsi kurs Rp 16.816. Harga ini turun dari level US$ 68.193 atau sekitar Rp 1,14 miliar yang tercatat pada pagi hari sekitar pukul 06.05 WIB.
Pelemahan harga BTC hari ini melanjutkan tren koreksi yang telah terjadi sejak bulan Oktober 2025, ketika BTC menyentuh puncaknya di harga US$ 125.000 atau sekitar Rp 2,1 miliar. Secara kumulatif, sejak Oktober 2025, BTC telah turun lebih dari 47% hingga saat ini. Untuk tahun 2026, BTC tercatat melemah 26%.
Jeff Mei, COO BTSE, menyatakan bahwa penurunan ini disebabkan oleh aksi jual bersih dari para investor setelah pengumuman tarif AS. Kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran juga berkontribusi pada situasi ini. "Kenaikan tarif yang tiba-tiba ini menyebabkan investor menjual aset kripto sebagai antisipasi penurunan pasar yang lebih serius," ungkap Jeff Mei.
Markus Thielen, Kepala Riset 10x Research, menambahkan bahwa harga BTC sedang dalam fase bearish, ditandai dengan rendahnya kepercayaan dan likuiditas di pasar kripto. Ia juga memperingatkan bahwa BTC bisa saja melemah hingga mencapai harga US$ 50.000.
Selain BTC, altcoin juga tidak luput dari penurunan. Ethereum (ETH) mengalami koreksi sebesar 3,16% dalam 24 jam terakhir, dengan harga mencapai US$ 1.917 atau sekitar Rp 32,23 juta. Sementara itu, koin BNB dan Solana (SOL) tercatat turun masing-masing sebesar 2,74% dan 5,91%, dengan harga BNB di level US$ 607,09 dan SOL di US$ 80,32.
Memecoin seperti DOGE juga mengalami penurunan, dengan harga turun 1,03% menjadi US$ 0.09652 dalam 24 jam terakhir.
Ringkasan dari situasi ini menunjukkan bahwa pasar kripto saat ini sedang mengalami ketidakpastian dan tekanan, terutama akibat faktor-faktor eksternal seperti kebijakan tarif dan ketegangan geopolitik.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Tokenisasi Aset Nyata Diprediksi Tembus US$5,5 Triliun pada 2030
INDODAX Dorong Sertifikasi Wajib Influencer Kripto
Transaksi Kripto Mei 2026 Naik Tipis Jadi Rp23,01 Triliun
Tokocrypto Luncurkan Tokenized Stocks, Akses Saham Global 24 Jam
PAKD: Bursa Global Harus Tunduk pada Aturan Kripto RI
Bitcoin Terkoreksi Usai Sinyal Hawkish The Fed, Investor Diminta Waspada
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
