Pendidikan Inklusif Badung: Anak Difabel Belajar Bersama
Gambar atau konten salah?
Ni Luh Arick Istriyanti meneladani semangat Raden Ajeng Kartini dengan semboyan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Ia berjuang agar anak-anak berkebutuhan khusus di Kabupaten Badung, Bali, dapat belajar bersama teman sebayanya.
Arick menganggap kegelapan sejati terjadi ketika anak penyandang disabilitas terpinggirkan, dianggap aib keluarga, dan disembunyikan dari masyarakat. Ia bertekad mengubah pandangan itu lewat pendidikan inklusif, bahkan di pelosok desa di Badung utara.
“Kehadiran pendidikan inklusif di Badung menjadi proklamasi bahwa di balik keterbatasan, ada kekuatan unik melalui potensi yang mereka miliki jika kita mau menerima,” ungkap Arick saat ditemui di Puspem Badung, Senin 20 April 2026.
Arick adalah tenaga ahli psikolog klinis di Unit Layanan Disabilitas (ULD) Disdikpora Badung. Ia lulus psikologi klinis dari Universitas Airlangga dan sejak muda tertarik pada dunia pendidikan inklusif karena keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi unik.
Asal usulnya di Desa Sibang Kaja, Kecamatan Abiansemal, Badung, membentuk kepeduliannya terhadap pendidikan melalui lensa psikologi. “Setiap individu itu memiliki kelebihannya masing-masing. Tergantung bagaimana kita menerima kondisi tersebut,” imbuhnya.
Di ULD, Arick memimpin tim yang terdiri dari psikolog pendidikan dan puluhan guru pendamping khusus. Tugasnya meliputi asesmen psikologis di lapangan dan penyusunan strategi pendampingan intensif agar siswa berkebutuhan khusus dapat belajar secara optimal di sekolah reguler. “Kami menyediakan fasilitas layanan berupa pendampingan dari psikolog dan guru pendamping khusus melalui program bernama Sapa Inklusi agar layanan ini makin dekat ke masyarakat. Tim kami biasanya menggunakan strategi target perilaku serta memodifikasi media belajar yang menyesuaikan dengan kurikulum nasional saat ini,” imbuh Juara I Pemuda Pelopor Bidang Pendidikan Kemenpora 2019 tersebut.
Arick menghadapi tantangan terbesar ketika turun ke wilayah Badung utara. Pola pikir tradisional masyarakat sering mengaitkan disabilitas dengan hal mistis. Penyangkalan orang tua menutup akses pendidikan dan terapi yang seharusnya didapatkan sejak dini. “Pola pikir masyarakat merupakan benteng terberat untuk ditembus meskipun tantangan infrastruktur layanan di pelosok juga tidak bisa kita abaikan. Masih ada orang tua yang tidak mengakui kondisi anaknya sehingga butuh waktu panjang untuk memberikan penjelasan agar mereka mau berkolaborasi melakukan pendampingan di rumah,” tutur anggota Himpunan Psikologi (Himpsi) Bali tersebut.
Selain tugas di ULD, Arick mengelola Komunitas Ekspresi Bali dan berpraktik mandiri di Kiran Consulting. Sebagai ibu sekaligus profesional, ia menjaga profesionalitas sambil memastikan kehadirannya utuh, baik fisik maupun mental, bagi keluarga kecilnya. “Kadang ada perasaan bersalah saat di kantor karena kehilangan waktu bersama anak, tetapi saya terus belajar melakukan manajemen diri agar tetap bisa fokus pada pengasuhan. Bagi saya, peningkatan kualitas diri adalah tanggung jawab individu agar kita tidak hanyut oleh perkembangan zaman namun tetap memiliki nilai-nilai yang kuat,” tutur Arick.
Pengalaman paling menyentuh baginya adalah melihat perubahan perilaku siswa. Seorang anak yang dulu tidak bisa duduk tenang kini mulai menyimak penjelasan guru. Momen haru juga terasa saat sesi berbagi pengalaman antar orang tua di sekolah reguler, yang secara tidak langsung mengajarkan nilai empati kepada siswa lain. “Sekecil apa pun progresnya sangat kami hargai, misalkan anak yang awalnya tidak bisa membaca kemudian mulai paham dua suku kata saja itu sudah membuat kami sangat bahagia. Kehadiran anak berkebutuhan khusus di sekolah reguler memberikan kesempatan bagi siswa lain untuk belajar empati dan penerimaan secara langsung dari teman sebaya mereka,” imbuh Counselor di aplikasi kesehatan mental Heyy tersebut.
Arick berharap pendidikan inklusif tidak lagi dianggap isu pinggiran, melainkan dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak sumber daya manusia yang produktif. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas gender antara ayah, ibu, dan pemerintah agar anak difabel tidak lagi dianggap beban sosial. “Mari kita ubah narasi mengasihani menjadi sebuah gerakan investasi agar adik-adik kita ini menjadi mandiri, berdaya, dan tidak diposisikan di kasta bawah dalam masyarakat. Jika kita menyampingkan mereka, artinya kita mengingkari filosofi spiritual Tat Twam Asi yang mengajarkan bahwa aku adalah kamu dan kamu adalah aku,” pungkas perempuan yang juga mengabdi di Bidang Keilmuan dan Riset AP2I Wilayah Bali itu.
Melalui dedikasi Arick, pendidikan inklusif di Badung bertumbuh, memberi ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk berkembang bersama teman sebayanya. Inisiatif ini menandai langkah kecil namun penting menuju masyarakat yang lebih menerima dan menghargai keberagaman.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
