Pengemudi Indonesia Jadi Bus Asing Pertama di Aichi Publik
Gambar atau konten salah?
01 Mei 2026 menjadi tanggal penting bagi industri transportasi Jepang. Di Prefektur Aichi, tiga pengemudi Indonesia resmi memulai tugas mereka di Meitetsu Bus di kota Toyota. Mereka adalah Azzam Al Antar, Dwi Harjanto, dan Seto Ramadhan Siswadi, yang menjadi pengemudi bus asing pertama yang beroperasi di sektor transportasi publik Prefektur Aichi.
Acara tersebut dipimpin oleh Wakil Duta Besar KBRI Tokyo, Maria Renata. Ia secara resmi menyerahkan izin kerja kepada ketiga pengemudi dan menekankan bahwa kehadiran mereka menunjukkan bahwa tenaga kerja Indonesia dapat bersaing di industri transportasi Jepang, yang dikenal dengan regulasi keselamatan yang sangat ketat.
Maria mengucapkan, “Momen ini menjadi tonggak sejarah yang luar biasa karena mereka adalah pengemudi bus berkewarganegaraan asing pertama yang beroperasi di sektor transportasi publik Prefektur Aichi!” Ia juga menegaskan pentingnya standar rekrutmen, pelatihan, dan perlindungan tenaga kerja yang tinggi. “Selamat mengemban tugas di Jepang! Semoga senantiasa diberi kelancaran, keselamatan, dan terus jadi inspirasi serta kebanggaan bagi Indonesia. Omedetou gozaimasu!”
Keberhasilan ini bukan satu-satunya contoh pengemudi Indonesia di Jepang. Sebelumnya, seorang sopir bernama Iyus, berusia 40 tahun, menjadi sopir bus wisata pertama dengan status pekerja terampil Jepang. Ia mengungkapkan, “Ini seperti mimpi jadi kenyataan bahwa saya bisa menjadi pengemudi profesional. Saya ingin mengemudi dengan aman untuk memberikan layanan yang nyaman kepada pelanggan kami.”
Menjadi sopir bus atau taksi di Jepang tidak semudah terlihat. Seseorang harus memiliki SIM kelas dua dan lulus ujian tertulis yang tersedia dalam berbagai bahasa. Persyaratan ini menambah tantangan bagi para calon pengemudi asing.
Di sisi lain, Jepang menghadapi kekurangan pengemudi. Pemerintah setempat berencana menerima 24.500 warga negara asing untuk bekerja sebagai pengemudi taksi, bus, dan truk selama lima tahun hingga tahun fiskal 2028. Langkah ini bertujuan mengisi kekosongan tenaga kerja dan menjaga kelangsungan layanan transportasi publik.
Keberhasilan Azzam, Dwi, Seto, dan Iyus menegaskan bahwa tenaga kerja Indonesia dapat menyesuaikan diri dengan standar tinggi di luar negeri. Mereka tidak hanya bekerja sebagai sopir, tetapi juga berperan sebagai duta bangsa, membawa nilai etos kerja dan karakter positif Indonesia ke Jepang. Keberhasilan ini memberi contoh konkret bahwa kolaborasi lintas negara dapat memperkaya kedua belah pihak.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Toyota Panggil Produsen Jepang Bersatu Lawan Mobil China
Tragedi Indramayu: 12 Tewas Akibat Pikap Angkut Manusia
BYD Tabrak Kaca Gedung SCBD, Sopir Salah Injak Pedal
Mitsubishi Luncurkan XForce Hybrid, SUV Irit Pertama
Recall Stiker, Subaru Tarik 541 Ribu Mobil di AS
Rincian Tarif SWDKLLJ 2025, Dari Motor hingga Truk
Berita Terbaru
Prabowo Pilih Maung Mahal Demi Industri Dalam Negeri
Prabowo Akan Luncurkan Motor Listrik Nasional
Prabowo Resmikan Proyek LNG Masela, Tunggu 28 Tahun
Stok BBM Nasional Aman 14-40 Hari
PLN Diskon Tambah Daya 50% Sambut Tahun Ajaran Baru
Iran Ancam Hentikan Ekspor Energi Timur Tengah
Pemerintah Tetapkan 60% Gas Blok Masela untuk Domestik
Antrean BBM di Medan Kembali Normal
Prabowo Target Bangun 50 Pabrik Etanol Demi BBM Campur
Irak-Suriah Hidupkan Pipa Minyak Alternatif Hormuz
