Perempuan Bali Sembara Batu Sikat, Pendapatan Tradisional
Gambar atau konten salah?
Di Pantai Watu Klotok, Desa Tojan, Klungkung, Bali, karung‑karung berisi batu sikat tersusun rapi. Di tengah tumpukan batu, beberapa perempuan sibuk memilah batu hitam dari kerikil laut.
Perempuan yang paling sering terlihat memilah batu sikat itu bernama Ketut Menuh. Ia berasal dari Banjarangkan, Klungkung, dan sudah dua tahun bekerja di sana. Setiap hari, Menuh datang pukul 9 pagi dan pulang sekitar 5 sore.
Menuh menaruh batu‑batu hitam ke dalam wadah dari daun lontar. Upahnya dihitung per rontong atau ember kecil. Batu sikat berukuran besar diberi Rp 10 ribu per rontong, sedangkan ukuran lebih kecil Rp 5 ribu per rontong. "Kalau batu sikat yang kecil, pemilahannya lama. Ini saja sudah satu jam, belum dapat satu rontong. Lama untuk mendapatkan Rp 10 ribu," ujar Menuh, yang pernah bekerja sebagai buruh tani.
Ia membutuhkan satu setengah sampai dua jam untuk mendapatkan satu rontong batu sikat pilihan. Karena sudah terbiasa, ia menganggap waktu itu tidak terlalu lama. Pekerjaan memilah batu juga terasa ringan bagi tubuhnya yang semakin menua. "Kalau tengah siang nanti panas, biasanya saya istirahat dulu," tambahnya.
Dalam sehari, Menuh bisa menghasilkan Rp 50 ribu. Menurutnya, harga jual batu sikat adalah Rp 65 ribu per goni, setara dengan tiga rontong.
Menuh bukan satu-satunya yang terlibat. Ada juga Nyoman Masti (52) dan Wayan Suparni (55). Sambil mengeringkan batu, Masti mengungkapkan penjualan menurun dalam setahun terakhir. "Nggak setiap hari ada yang beli. Kalau ada, paling beli dua tiga karung. Lihat saja banyak tumpukan karung di sini," katanya. Sebagai buruh, ia menyerahkan semua batu kepada pengepul. "Upah per ember Rp 15 ribu. Kalau harga jual, itu diurus sama bos," jelasnya.
Di wilayah pesisir ini, pekerjaan memilah batu sikat tetap menjadi sumber pendapatan bagi para perempuan. Pekerjaan ini menegaskan ketahanan ekonomi masyarakat lokal yang masih bergantung pada mata pencaharian tradisional. 24 April 2026.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
Berita Terbaru
Bahlil Bantah Pemadaman Listrik Terkait Pasokan Batu Bara
Harga Minyak US$100 Per Barel, Masyarakat Berbondong Beralih ke BBM Subsidi
Bahlil Buka Suara soal Badan Usaha Khusus Migas Baru
Bahlil soal Impor Migas: Cari Pemasok Termurah
Pemerintah Dorong Program B50 Berhasil, Kini Siap Kembangkan E50
Presiden Kirim Surat ke DPR untuk Bahas RUU Migas
Pemerintah Hidupkan 45.000 Sumur Rakyat dan Sumur Tua
Proyek Sampah Jadi Listrik Bogor Raya 1 Mulai Dibangun
Pertamina Percepat Produksi Migas Demi Target 1 Juta Barel
Pertamina EP Buka Suara soal Kasus BUMD Bekasi
