Peternak Bali Hilang 60 Babi, Terduga ASF Kematian Massal
Gambar atau konten salah?
Di Desa Canggu, Kecamatan Kuta Utara, Badung, Bali, peternak asal Banjar Kayu Tulang, Ketut Widanta, mengumumkan bahwa 60 ekor babi miliknya mati secara mendadak sejak awal April 2026. Ia menuduh penyebabnya adalah virus African Swine Fever (ASF). Pada Kamis, 21 Mei 2026, Widanta menyatakan, “Semua babi peliharaan saya mati. Nggak ada yang sisa sama sekali di kandang. Totalnya ada itu 60 ekor.”
Menurutnya, wabah ini muncul secara bertahap dengan gejala yang seragam. Ia menambahkan, “Babi saya sudah pernah kejadian mati mendadak lima kali sejak tahun 2018 lalu. Gejalanya selalu sama, muncul bintik merah, nggak mau makan.”
Gejala paling mencolok yang dilaporkan adalah perubahan warna kulit menjadi kemerahan. Widanta menjelaskan, “Penyakit yang saya duga ASF ini biasanya sudah tertular sekitar satu minggu. Penularannya cepat beberapa hari, kalau satu ekor kena, semua pasti kena.” Ia menekankan bahwa penularan bisa menimpa seluruh populasi kandang hanya dalam hitungan hari.
Ia mengakui bahwa babinya, yang masing-masing berukuran sekitar 150 kilogram, sudah siap panen ketika tiba-tiba mati. “Padahal babi saya ini beratnya sudah sekitar 150 kilogram, per ekor. Posisinya sudah siap panen, malah mati,” kata Widanta dengan kesal.
Selama bertahun‑tahun, Widanta rutin menjaga kebersihan kandang dan memberi pakan harian. Ia juga menyemprotkan cairan disinfektan secara berkala, baik sebelum maupun sesudah kematian massal. “Setiap harinya saya berikan pakan ternak babi, ditambah juga saya mengambil sisa-sisa makanan di restoran‑restoran dekat sini. Saya juga sudah bersihkan kandang, disinfektan untuk sterilisasi juga sudah,” jelasnya.
Menanggapi kemungkinan asal penularan, Widanta menduga virus masuk melalui mobilitas hewan atau aktivitas manusia yang membawa agen penyakit dari luar. Ia menyoroti bahwa penggunaan wadah transportasi atau kandang angkut yang tidak higienis dapat menjadi sarana penyebaran virus antarpeternakan.
Pihak Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung belum memberikan pernyataan resmi setelah dikonfirmasi mengenai kasus ini. Hingga kini belum ada obat atau vaksin yang dapat menyembuhkan babi yang terinfeksi ASF.
Kasus ini menegaskan betapa cepatnya penyebaran ASF dan pentingnya tindakan pencegahan di peternakan kecil. Peternak seperti Widanta harus lebih waspada terhadap gejala awal dan memperketat sanitasi di kandang agar tidak terjadi kerugian lebih besar.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah