RPH Kaliunda di Klungkung Usulkan Relokasi Bangunan Usang
Gambar atau konten salah?
RPH Kaliunda di Kabupaten Klungkung, Bali, menampilkan kondisi yang cukup memprihatinkan. Bangunan yang dibangun pada akhir 1980-an sudah menua, sementara fasilitasnya tidak mampu menampung volume pemotongan sapi yang masih berlangsung.
Di tengah rencana renovasi, Dinas Pertanian Klungkung mengusulkan relokasi. Kepala Dinas, Ida Bagus Gde Juanida, menegaskan bahwa rumah pemotongan ini adalah satu-satunya tempat pemotongan sapi di wilayah tersebut. “RPH ini memang satu-satunya yang kita miliki di Kabupaten Klungkung. Ini terakhir bangunannya sekitar tahun 89 (1989) atau tahun 87,” ujarnya.
Setiap hari, RPH Kaliunda memotong rata‑rata satu ekor sapi. Meskipun volume tidak tinggi, kegiatan ini tetap memberi kontribusi melalui retribusi. “Kita juga menerima retribusi dari sini. Tidak besar tapi ada dan rutin,” tambah Juanida.
Selain bangunan yang memerlukan perbaikan, kebutuhan utama saat ini adalah relokasi. Permintaan warga di sekitar area RPH semakin padat, sehingga muncul keluhan tentang limbah pemotongan. “Sebelumnya, lokasi ini memang sepi dari penduduk. Tapi sekarang semakin banyak, sehingga terkadang ada keluhan soal limbah pemotongan. Itulah mengapa kita merencanakan relokasi. Namun sampai saat ini belum ada lahan yang siap untuk ditempati. Nah, ditambah lagi biaya,” jelasnya.
Bupati Klungkung, I Made Satria, menambahkan kondisi atap bangunan yang rusak. Ia menegaskan keterbatasan fiskal daerah. “Ya, sudah saya lihat banyak atap yang rusak dan kondisi bangunannya juga butuh perbaikan. Namun memang kondisi fiskal kita tidak memungkinkan untuk melakukan perbaikan. Ini saja kita minjam untuk melakukan pembangunan yang lebih prioritas berupa infrastruktur jalan,” papar Satria.
Namun, rencana perbaikan RPH tetap menjadi prioritas di masa depan. “Namun ke depan perbaikan RPH ini pasti akan kita pikirkan. Saat ini kita masih mendahulukan skala prioritas,” tambahnya.
RPH Kaliunda memiliki dua area pemotongan. Bagian pertama berada di bangunan lama dengan genteng rapuh, sedangkan bagian kedua berada di bangunan permanen yang lebih besar, namun plafon bolong dan lantai kramik berlubang. Lokasinya tepat di tepi wisata Kaliunda, sehingga tampak merusak pemandangan. Di sekitar RPH, rumah penduduk sudah padat, menambah tekanan pada lingkungan.
Dengan kondisi tersebut, pihak berwenang menilai bahwa relokasi bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Rencana tersebut masih menunggu lahan yang cocok dan dana yang cukup. Sementara itu, pemeliharaan rutin dan retribusi tetap dijaga untuk mendukung pendapatan daerah.
Komentar
Memuat komentar...
Terkait
Kapolri Duduk Bareng Pecalang dan Ojol di Bali
Sensatia Raih Sertifikasi Bebas Kekejaman dari Cruelty Free International
Kampung Gelgel Klungkung tak punya calon kades
Bangkai Paus di Pantai Perancak Kembali Muncul
Ledakan Tabung Gas Hanguskan Warung Bakso, Tiga Luka Bakar
Klungkung Kekurangan 8.300 PJU, Nusa Penida Paling Parah
