Tiga Ruang Kelas SD di Boyolali Disangga Bambu, Atap Nyaris Roboh

Eko P. · 2 min baca · Baru saja · 1 dibaca
Bisik.id
Tiga Ruang Kelas SD di Boyolali Disangga Bambu, Atap Nyaris Roboh

Gambar atau konten salah?

Di tengah suasana Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berjalan biasa saja, SDN 2 Ketaon di Desa Ketaon, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, menyimpan masalah besar. Tiga ruang kelas di sekolah itu nyaris roboh.

Wahyudi, Kepala SDN 2 Ketaon, mengatakan kerusakan ini sudah berlangsung hampir setahun. "Untuk tingkat kerusakan ini sudah hampir 1 tahun ya sebenarnya," katanya saat ditemui di sekolah pada Senin, 13 Juli 2026.

Kerusakan paling parah ada di konstruksi atap. Bagian blandar kuda-kuda—struktur penyangga atap—sudah melengkung turun dan hampir patah. Dari tiga ruang kelas yang rusak, dua di antaranya kini disangga dengan bambu. Tujuannya agar atap tidak ambruk ke bawah. Sebagian plafon juga sudah rontok. Di salah satu kelas, kayu konstruksi atap yang lapuk bahkan sudah jatuh ke lantai.

"Kuda-kuda sama blandar-blandar itu kan banyak yang putus. Jadi mulai disangga pakai bambu-bambu itu ya sekitar 6 bulanan lebih," ungkap Wahyudi.

Demi keselamatan siswa, pihak sekolah memindahkan kegiatan belajar mengajar ke ruangan lain yang masih layak. Siswa kelas V misalnya, kini belajar di ruang kepala sekolah secara lesehan. Ruang lain yang digunakan antara lain musala, ruang komputer, dan ruang guru.

Sekolah sudah mengajukan perbaikan ke Pemerintah Pusat. Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang diajukan mencapai Rp 636 juta.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali, Dwi Hari Kuncoro, mengatakan perbaikan SDN 2 Ketaon sudah masuk daftar prioritas. "Tahun ini alhamdulillah kemarin sudah ada surveyor pendamping dari Universitas Gajah Mada, mensurvei kondisi SD 2 Ketaon ini untuk mendapatkan dana revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar Menengah untuk tahun 2026 ini," ujarnya di lokasi yang sama.

Kuncoro juga punya rencana jangka pendek. Pihaknya akan memanfaatkan gedung SDN 1 Ketaon yang saat ini kosong. SDN 1 Ketaon termasuk sekolah yang diregrouping tahun ini. "Kami juga sangat prihatin melihat kondisi seperti ini. Kondisi sekarang yang ada di SD 1 Ketaon itu ruangannya juga masih mungkin ada yang baik. Makanya nanti setelah ini akan kami survei, kami cek di SD Ketaon dan akan kami komunikasikan dengan pemerintah desa untuk digunakan sebagian sementara dalam menunggu pembangunan atau rehabilitasi ini selesai," imbuhnya.

Kondisi ini menunjukkan bagaimana sekolah di daerah harus berjuang dengan infrastruktur yang memprihatinkan. Sementara menunggu dana perbaikan dari pusat, siswa dan guru tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan segala keterbatasan. Bambu penyangga atap dan ruang lesehan menjadi pemandangan sehari-hari di SDN 2 Ketaon.

SDN 2 KetaonMPLSruang kelas robohkonstruksi atapbambu penyanggarevitalisasiinfrastruktur sekolah

Komentar

Memuat komentar...