Toko Buku Bekas Oki's Bookshop di Seminyak Terus Bertahan

Dian P. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 134 dibaca
Bisik.id
Toko Buku Bekas Oki's Bookshop di Seminyak Terus Bertahan

Gambar atau konten salah?

Di sebuah gang kecil Jalan Camplung Tanduk, Kelurahan Seminyak, Kecamatan Kuta, Badung, Bali, tersembunyi sebuah toko buku yang tidak banyak orang kenal. Toko itu bernama Oki's Bookshop dan menampilkan plang sederhana dengan tulisan yang sama di depan pintunya.

Hari Minggu, 12 April 2026, ketika saya mengunjungi tempat itu, toko tampak sepi. Tidak ada penjaga di pintu, hanya pemiliknya, Irwansyah Priadi, yang dikenal dengan nama panggilan Oki. Ia berusia 47 tahun dan baru saja selesai sholat zuhur. Oki memulai usahanya sekitar 15 tahun lalu, dan sejak saat itu ia telah berpindah beberapa lokasi, mulai dari Legian ke Seminyak. Pada enam bulan terakhir, ia memilih gang kecil ini karena harga sewa yang lebih terjangkau.

“Karena kontrakan kan makin lama makin naik tuh, mahal. Jadi cari yang lebih murah. Karena jualan buku itu kan harus disesuaikan dengan biaya kontrakannya,” ujar Oki.

Usaha buku bekas ini tidak selalu mulus. Pandemi COVID‑19 menandai periode sulit bagi banyak pedagang. Oki mengaku, “Setelah COVID itu banyak yang tutup. Sebelum COVID itu banyak sekali. Setelah COVID itu tutup, selesai semua.”

Namun, Oki berhasil bertahan. Toko ini menarik pengunjung dengan harga buku yang sangat bersahabat, mulai Rp 75.000 hingga Rp 85.000. Pembeli bahkan masih bisa menawar. Semua buku yang dijual adalah bekas yang dikumpulkan dari berbagai orang. Setiap minggu Oki mengunjungi para pelanggan yang menjadi “langganan” dan mengambil buku yang mereka kumpulkan.

“Di orang‑orang perorang saya ngambilnya. Mereka ngumpulin, nanti saya datang ngambil di mereka. Iya, sudah ada punya langganan,” jelas Oki, yang berasal dari Medan, Sumatra Utara.

Oki memastikan setiap buku masih layak sebelum dijual. Ia memeriksa kelengkapan halaman dan kondisi fisik buku. Perawatan yang ia lakukan cukup sederhana: menjaga agar buku tidak terkena air dan panas.

Jika dilihat sekilas, mayoritas buku di toko ini berbahasa asing, terutama bahasa Inggris. Ada juga buku berbahasa Jerman, Prancis, dan Belanda. Buku berbahasa Indonesia hanya sedikit. Oki menjelaskan, “Memang ke bahasa asing. Kalau orang Indonesia kan jarang suka buku. Makanya buku Indonesia kan jarang, banyakan bahasa Inggris ya.”

Jumlah pengunjung Oki's Bookshop sangat bergantung pada musim kunjungan wisatawan. Saat high season, toko ini bisa dikunjungi sekitar 20 orang per hari. Oki menambahkan, “Tergantung situasi tamu sekarang nih. Kalau tamunya ramai, turis pendatang ramai, ya ramai. Kalau nggak ya beginilah dia, tergantung musiman orang‑orang turis mancanegara kan.”

Walaupun sederhana, toko buku ini sering menjadi tempat yang dicari oleh wisatawan. Banyak pengunjung yang merasa senang dengan keramahan Oki dan membagikan pengalaman mereka di media sosial. Oki mengaku, “Makanya kan banyak di Instagram, di TikTok mereka yang masukin. Karena mereka senang katanya, itu aja sih. Karena ramah apa segala macam pelayanan saya.”

Oki's Bookshop menjadi contoh bagaimana usaha kecil dapat bertahan di tengah perubahan ekonomi dan pandemi. Dengan harga terjangkau, koleksi buku yang beragam, dan layanan yang ramah, toko ini tetap menjadi tempat favorit bagi para pencari bacaan, baik wisatawan maupun penduduk setempat.

Oki's BookshopBalibuku bekaspandemi COVID-19harga terjangkauwisatawanmedia sosialbahasa Inggris

Komentar

Memuat komentar...