Bitcoin Turun 42% karena Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan AS

Sigit W. · 2 min baca · 3 bulan lalu · 149 dibaca
Bisik.id
Bitcoin Turun 42% karena Ketegangan Geopolitik dan Kebijakan AS

Gambar atau konten salah?

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap alasan di balik penurunan drastis nilai aset digital kripto global setelah mencapai rekor tertinggi tahun lalu. Menurut data, Bitcoin (BTC) pernah melampaui US$ 120.000 atau sekitar Rp 2 miliar pada pertengahan tahun sebelumnya. Saat ini, harga Bitcoin telah turun menjadi US$ 69.140 atau Rp 1,17 miliar.

Penurunan ini disebabkan oleh rangkaian konflik geopolitik yang terjadi beberapa bulan terakhir. “Peningkatan ketegangan geopolitik ini termasuk eskalasi perang dagang di Amerika dan China serta konflik di Timur Tengah, ini mendorong peningkatan risk‑off, sentimen di pasar keuangan global,” ungkap Adi Budiarso, Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner secara virtual pada 06 April 2026.

Adi menambahkan bahwa penurunan harga aset kripto juga dipicu oleh kebijakan moneter dan fiskal yang ketat di Amerika Serikat. “Pengetatan kebijakan moneter suku bunga tinggi di Amerika Serikat yang mempengaruhi likuiditas global, juga telah memicu likuidasi besar‑besar pada posisi leverage di pasar kripto. Hal ini tentunya menekan volume transaksi,” jelasnya. Akibatnya, transaksi kripto di Indonesia menurun sekitar 16,9% pada Februari 2026, turun menjadi Rp 24,33 triliun dari Rp 29,28 triliun pada bulan sebelumnya.

Menurut Adi, pasar kripto kini berada di fase konsolidasi besar‑besar setelah mencapai puncak pada akhir Oktober 2025. “Hal ini tercermin dari turunnya transaksi dan harga sejumlah aset utama kripto,” katanya. Ia juga menyoroti penurunan kapitalisasi pasar kripto sebesar 45% dari rekor tertinggi US$ 4,2 triliun pada akhir 2025 menjadi sekitar US$ 2,3 triliun pada Maret 2026.

Data perdagangan Coinmarketcap hari ini menunjukkan altcoin Ether (ETH) pernah mencapai puncak harganya lebih dari US$ 4.700 atau sekitar Rp 80 juta. Saat ini, harga Ether turun menjadi US$ 2.134 atau Rp 36,36 juta.

Dengan semua faktor tersebut, OJK menilai bahwa volatilitas tinggi di pasar kripto disebabkan oleh kombinasi tekanan geopolitik, kebijakan moneter AS, dan penurunan likuiditas global. Penurunan transaksi di Indonesia mencerminkan pergeseran sentimen investor yang lebih berhati‑hati terhadap aset digital.

Pergerakan pasar kripto saat ini menunjukkan bahwa para pelaku harus memantau kondisi makroekonomi global dan kebijakan fiskal AS, karena kedua elemen tersebut memiliki dampak langsung pada likuiditas dan volume perdagangan di pasar kripto. Dengan demikian, investor diharapkan tetap waspada terhadap fluktuasi harga yang dapat terjadi secara cepat.

OJKaset digital kriptoBitcoingeopolitikkebijakan moneterlikuiditas globalvolatilitas tinggi

Komentar

Memuat komentar...